Ia menjelaskan, pengunjung dari kalangan anak usia dini hingga sekolah dasar kerap datang secara berkelompok. Mereka tidak hanya berwisata, tetapi juga belajar langsung melalui interaksi dengan ruang terbuka hijau, satwa, serta elemen tematik yang tersedia.
Pengunjung juga dikenalkan pada sejarah kawasan yang sebelumnya merupakan TPA Keputih. TPA tersebut beroperasi sejak 1970-an dan ditutup pada 2001, sebelum akhirnya direvitalisasi melalui penanaman bambu untuk menyerap gas metana, dilanjutkan pengurukan lahan pada 2008–2014, hingga diresmikan menjadi taman pada 2019 dan diperbarui kembali pada 2025.
Meski demikian, pengelolaan kawasan ini memiliki tantangan tersendiri. Kondisi tanah bekas timbunan sampah yang labil membuat perawatan harus dilakukan secara berkala.
“Setelah hujan, tanah bisa bergerak sehingga beberapa jalur pedestrian harus diperbaiki. Setiap dua sampai tiga tahun juga dilakukan pengurukan agar tetap stabil,” kata Bagus.