Kesehatan Jemaah Haji 2026 Embarkasi Surabaya Membaik, Risiko Tinggi Turun di Bawah 30 Persen

surabaya | 14 April 2026 12:51

Kesehatan Jemaah Haji 2026 Embarkasi Surabaya Membaik, Risiko Tinggi Turun di Bawah 30 Persen
Para jemaah melakukan manasik dengan berkeliling miniatur Ka'bah di Asrama Haji Surabaya sebagai persiapan sebelum ke Tanah Suci. (dok radarsurabaya)
SURABAYA, PustakaJC.co – Menjelang pemberangkatan haji 2026 yang dijadwalkan mulai 22 April, kondisi kesehatan calon jemaah di Embarkasi Surabaya menunjukkan tren yang lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Persentase jemaah dengan kategori risiko tinggi (risti) pun dilaporkan menurun hingga di bawah 30 persen. Selasa, (14/4/2026).
 
“Secara umum kondisi kesehatan jemaah lebih bagus. Ini terlihat dari hasil pemantauan yang kami terima,” ujarnya. Demikian dikutip dari surabaya.jawapos.com, Selasa, (14/4/2026).
 
Sebanyak 43.200 jemaah dari Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Timur (NTT) akan diberangkatkan melalui Embarkasi Surabaya dalam 116 kelompok terbang (kloter). Pemantauan kesehatan telah dilakukan secara menyeluruh sejak tahap awal persiapan keberangkatan.
 
 
Kepala Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Surabaya, Rosidi Roslan, menyampaikan bahwa mayoritas jemaah telah memenuhi syarat istitha’ah atau layak berhaji. Ia menilai kondisi kesehatan jemaah tahun ini lebih baik dibandingkan periode sebelumnya.
 
Salah satu indikator peningkatan tersebut adalah berkurangnya jumlah jemaah yang membutuhkan kursi roda. Hal ini menunjukkan bahwa proses seleksi kesehatan dilakukan lebih ketat oleh masing-masing daerah.
 
BBKK Surabaya juga terus berkoordinasi dengan dinas kesehatan kabupaten/kota untuk memastikan kondisi jemaah tetap stabil hingga hari keberangkatan. Imbauan untuk menjaga kesehatan terus disampaikan agar tidak terjadi penurunan kondisi menjelang keberangkatan.
 
 
Untuk mendukung layanan kesehatan, lebih dari 20 tenaga medis disiagakan setiap hari di Asrama Haji Surabaya. Mereka terdiri dari dokter, perawat, tenaga farmasi, hingga petugas administrasi yang bekerja secara bergiliran. Selain itu, fasilitas ambulans serta dukungan rumah sakit di Jawa Timur juga telah disiapkan.
 
Rosidi menambahkan, angka risti yang berada di bawah 30 persen masih tergolong aman dan dapat dikendalikan, mengingat setiap daerah telah memastikan jemaah yang diberangkatkan dalam kondisi sehat secara fisik maupun mental.
 
 
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Kanwil Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Jawa Timur, Mohammad As’adul Anam, menegaskan pentingnya pemenuhan syarat vaksinasi bagi seluruh jemaah.
 
Vaksin meningitis dan polio menjadi syarat wajib, sedangkan vaksin influenza bersifat anjuran. Status vaksinasi tersebut akan tercatat dalam sistem digital melalui kartu Nusuk yang terintegrasi dengan data kesehatan jemaah di Arab Saudi.
 
“Data vaksinasi akan terdeteksi di sistem Nusuk. Jika tidak terpenuhi, ini bisa menjadi kendala bagi jemaah,” tegasnya.
 
Meski demikian, terdapat pengecualian untuk kondisi tertentu, seperti ibu hamil atau jemaah dengan risiko tinggi, yang tetap dapat berangkat dengan rekomendasi dari dokter spesialis sesuai pertimbangan medis.
 
Dengan berbagai persiapan tersebut, diharapkan seluruh jemaah dapat menjalankan ibadah haji dengan kondisi sehat dan optimal. (frcn)