Penerapan Parkir Non Tunai di Surabaya Belum Menyeluruh, Pasar Soponyono Masih Gunakan Sistem Tunai

surabaya | 19 April 2026 12:57

Penerapan Parkir Non Tunai di Surabaya Belum Menyeluruh, Pasar Soponyono Masih Gunakan Sistem Tunai
Karcis parkir motor senilai Rp3.000 di Pasar Soponyono, Rungkut, Surabaya, Kamis (16/4/2026). Hingga kini, sistem pembayaran parkir di lokasi tersebut masih dilakukan secara tunai, meski Pemerintah Kota Surabaya tengah mendorong penerapan parkir non tunai.  (dok tribunjatim) 
SURABAYA, PustakaJC.co – Program digitalisasi parkir yang tengah didorong Pemerintah Kota Surabaya belum sepenuhnya berjalan di semua titik. Di sejumlah lokasi, praktik pembayaran parkir secara tunai masih ditemukan, salah satunya di Pasar Soponyono, kawasan Rungkut. Minggu, (19/4/2026). 
 
 
Berdasarkan pantauan di lapangan, pengendara sepeda motor yang memarkirkan kendaraannya di area tersebut masih dikenakan tarif Rp3.000 secara tunai. Selain itu, petugas parkir yang berjaga juga belum seluruhnya menggunakan atribut resmi sebagaimana standar juru parkir yang ditetapkan.
 
 
Seorang petugas parkir yang enggan disebutkan identitasnya mengaku belum mengetahui adanya kebijakan pembayaran parkir non tunai dari pemerintah kota. Ia menyebut praktik yang berjalan saat ini masih mengikuti kebiasaan sebelumnya.
 
“Iya masih tunai, Mas. Saya tidak tahu soal pembayaran digital itu,” ujar Saipul.
 
Di sisi lain, sejumlah pengunjung berharap sistem parkir digital dapat segera diterapkan secara merata, termasuk di pasar tradisional. Mereka menilai sistem non tunai lebih praktis sekaligus meningkatkan transparansi pengelolaan retribusi.
 
 
Meski begitu, ada pula pengunjung yang tidak mempermasalahkan metode pembayaran, selama keamanan kendaraan tetap terjaga dengan baik. Mereka menekankan pentingnya kualitas layanan parkir dibanding sekadar sistem pembayaran.
 
 
Program parkir non tunai sendiri sebelumnya digagas sebagai langkah meningkatkan transparansi pendapatan daerah sekaligus menekan potensi kebocoran. Namun, realisasi di lapangan menunjukkan masih adanya tantangan dalam penerapan secara menyeluruh. (frchn)