Pemkot Surabaya Perkuat Integrasi Drainase dan Penataan Elevasi untuk Atasi Banjir Selatan

surabaya | 05 Mei 2026 20:53

Pemkot Surabaya Perkuat Integrasi Drainase dan Penataan Elevasi untuk Atasi Banjir Selatan
(dok pemkot surabaya) 
SURABAYA, PustakaJC.co - Pemerintah Kota Surabaya terus mengintensifkan langkah pengendalian banjir di kawasan selatan dengan mengintegrasikan sistem saluran air serta menata ulang elevasi drainase agar aliran lebih lancar dan efisien. Selasa, (5/5/2026) 
 
"Jadi hari ini kita meng-connectkan, mengoreksi, bagaimana satu area itu ter-connect dengan area lainnya," ujarnya. Demikian dikutip dari surabaya.go.id, Selasa, (5/5/2026). 
 
 
Upaya ini dipantau langsung oleh Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, melalui peninjauan di sejumlah titik strategis, seperti Rumah Pompa Jalan Ahmad Yani, Jalan Gayungsari Barat, hingga Rumah Pompa Nanggala di Dukuh Menanggal. Ia juga mengecek saluran yang terhubung ke Rumah Pompa Ahmad Yani, termasuk di Jalan Raya Jemursari, Kendangsari, dan Tenggilis Mejoyo.
 
 
Dalam peninjauan tersebut, Eri menekankan pentingnya konektivitas antar saluran air. Menurutnya, persoalan banjir tidak hanya dipicu kapasitas drainase, tetapi juga belum optimalnya integrasi sistem aliran antarwilayah.
 
 
Ia menjelaskan bahwa wilayah selatan Surabaya seperti Gayungsari, Ahmad Yani, Prapen, hingga Tenggilis Mejoyo harus terhubung dalam satu sistem aliran yang utuh. Tantangan utama terletak pada jarak aliran menuju Avur Wonorejo yang cukup jauh.
 
 
"Karena seperti saya sampaikan, jarak ke Avur Wonorejo itu jauh sekali. Mulai dari Karah ketemunya sampai setelah RS UBAYA," jelasnya.
 
 
Selain integrasi, Pemkot juga fokus pada penataan elevasi saluran. Perbedaan ketinggian di beberapa titik dinilai menjadi penyebab aliran air tidak maksimal meskipun infrastruktur sudah tersedia.
 
 
"Yang kedua kita memastikan semua elevasi. Elevasinya kita tata, karena tadi semua saluran sudah ada, tetapi ada beberapa elevasi yang tidak sama atau lebih tinggi," paparnya.
 
 
Eri mencontohkan kondisi di Dukuh Menanggal yang salurannya kering, sementara di Gayungsari masih tergenang. Hal ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan elevasi yang menghambat aliran.
 
 
"Sehingga kalau kita melihat, saluran Menanggal itu kering, tapi saluran di Gayungsari masih ada airnya," tuturnya.
 
 
Ia menegaskan bahwa aliran air seharusnya mengarah ke Dukuh Menanggal, kemudian dipompa menuju Kali Perbatasan Surabaya-Sidoarjo. Oleh karena itu, penyamaan elevasi menjadi kunci utama.
 
 
"Padahal airnya itu seharusnya dibuang ke saluran Menanggal, yang ditarik di Rumah Pompa Menanggal, dibuang di Kali Perbatasan. Maka semua elevasi kita samakan," tegasnya.
 
 
Melalui langkah ini, Eri berharap seluruh jajaran pemerintah mulai dari lurah, camat hingga perangkat daerah memahami arah aliran air sebagai dasar perencanaan pembangunan ke depan.
 
 
"Jadi dengan perencanaan hari ini, saya berharap semua lurah, camat, dan teman-teman sudah bisa mengetahui aliran air itu ke mana. Sehingga ke depan ketika melakukan perencanaan pembangunan ini sudah terkoneksi," pungkasnya. (frchn)