Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengungkapkan penyusunan DED dilakukan oleh perusahaan asal Jepang, Chodai. Dokumen tersebut akan memuat berbagai kajian teknis, mulai dari proyeksi jumlah penumpang, kebutuhan infrastruktur, hingga desain stasiun yang akan dibangun.
Menurut Emil, hasil DED akan menjadi acuan utama bagi operator dalam merealisasikan pembangunan sekaligus pengoperasian jalur kereta listrik tersebut.
Di sisi lain, pengembangan Depo Sidotopo menjadi salah satu tantangan dalam pelaksanaan proyek. Depo tersebut nantinya akan difungsikan sebagai lokasi penyimpanan, perawatan, serta bengkel rangkaian kereta listrik.
Namun, pengembangannya masih menghadapi kendala pembebasan lahan. Sebagian area depo masih ditempati warga dan terdapat perbedaan status kepemilikan tanah yang perlu diselesaikan.
Emil mengatakan pemerintah bersama PT KAI akan mengoptimalkan lahan yang telah tersedia terlebih dahulu. Sementara itu, penyelesaian persoalan lahan akan dilakukan secara bertahap melalui mekanisme yang berlaku dengan tetap memperhatikan kepentingan masyarakat yang tinggal di kawasan tersebut.
Pemerintah berharap seluruh tahapan proyek dapat berjalan sesuai rencana sehingga SRRL mampu menjadi solusi transportasi massal yang lebih cepat, nyaman, dan ramah lingkungan bagi masyarakat Surabaya, Sidoarjo, serta wilayah sekitarnya. (ivan)