SURABAYA, PustakaJC.co – Upaya menghadirkan sistem transportasi massal yang modern di kawasan aglomerasi Surabaya terus dipersiapkan pemerintah. Proyek Surabaya Regional Railway Line (SRRL) atau kereta listrik yang menghubungkan Stasiun Surabaya Gubeng dengan Stasiun Sidoarjo ditargetkan mulai beroperasi pada 2029.
Saat ini, proyek tersebut telah memasuki tahap penyusunan Detail Engineering Design (DED) sebagai bagian dari persiapan pembangunan. Penyusunan dokumen teknis ini menjadi salah satu tahapan penting sebelum proyek memasuki fase konstruksi. dilansir dari jawapos.com, Kamis, (16/7/2027).
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengatakan pemerintah berharap proyek dapat diselesaikan sesuai target sehingga manfaatnya segera dirasakan masyarakat, khususnya warga Surabaya dan daerah penyangga.
"Harapannya, pada tahun 2029 proyek ini dapat selesai dan dimanfaatkan oleh masyarakat, khususnya warga Surabaya dan sekitarnya," ujar Dudy usai rapat bersama Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Rabu (15/7).
Selain membahas perkembangan proyek SRRL, Kementerian Perhubungan bersama Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga membicarakan peningkatan kapasitas layanan transportasi untuk mengantisipasi tingginya mobilitas masyarakat di kawasan metropolitan Surabaya.
Menurut Dudy, pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah guna mengatasi persoalan kapasitas maupun kuota layanan transportasi, sehingga kebutuhan masyarakat terhadap angkutan umum dapat terpenuhi secara lebih optimal.
Ia menjelaskan, proses penyusunan DED telah dimulai melalui penunjukan pihak penyusun. Tahapan tersebut menjadi penanda bahwa proyek SRRL telah memasuki fase perencanaan teknis yang lebih rinci.
"Saat ini kami telah memulai proses penunjukan untuk penyusunan DED. Hal tersebut menandakan bahwa proyek ini sudah dapat berjalan," katanya.
Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengungkapkan penyusunan DED dilakukan oleh perusahaan asal Jepang, Chodai. Dokumen tersebut akan memuat berbagai kajian teknis, mulai dari proyeksi jumlah penumpang, kebutuhan infrastruktur, hingga desain stasiun yang akan dibangun.
Menurut Emil, hasil DED akan menjadi acuan utama bagi operator dalam merealisasikan pembangunan sekaligus pengoperasian jalur kereta listrik tersebut.
Di sisi lain, pengembangan Depo Sidotopo menjadi salah satu tantangan dalam pelaksanaan proyek. Depo tersebut nantinya akan difungsikan sebagai lokasi penyimpanan, perawatan, serta bengkel rangkaian kereta listrik.
Namun, pengembangannya masih menghadapi kendala pembebasan lahan. Sebagian area depo masih ditempati warga dan terdapat perbedaan status kepemilikan tanah yang perlu diselesaikan.
Emil mengatakan pemerintah bersama PT KAI akan mengoptimalkan lahan yang telah tersedia terlebih dahulu. Sementara itu, penyelesaian persoalan lahan akan dilakukan secara bertahap melalui mekanisme yang berlaku dengan tetap memperhatikan kepentingan masyarakat yang tinggal di kawasan tersebut.
Pemerintah berharap seluruh tahapan proyek dapat berjalan sesuai rencana sehingga SRRL mampu menjadi solusi transportasi massal yang lebih cepat, nyaman, dan ramah lingkungan bagi masyarakat Surabaya, Sidoarjo, serta wilayah sekitarnya. (ivan)