Sensasi Unik Kuliner Legendaris Madiun: Kenikmatan Brem Tradisional yang Lumer di Mulut

kuliner | 20 Oktober 2026 19:21

Sensasi Unik Kuliner Legendaris Madiun: Kenikmatan Brem Tradisional yang Lumer di Mulut
Sensasi Unik Kuliner Legendaris Madiun: Kenikmatan Brem Tradisional yang Lumer di Mulut

SURABAYA, PustakaJC.co- Membicarakan kekayaan kuliner Nusantara tentu tidak lengkap tanpa menyinggung camilan tradisional yang menyimpan sejarah panjang. Salah satunya adalah brem, penganan khas asal Madiun, Jawa Timur, yang terkenal dengan sensasi uniknya yang padat di awal namun langsung lumer dan mencair begitu bersentuhan dengan lidah.

Di balik rasanya yang khas—perpaduan manis dan sedikit asam yang menyegarkan—tersimpan proses pembuatan yang sarat akan tradisi. Penganan ini tidak bisa langsung diolah secara instan, melainkan membutuhkan waktu hingga sekitar satu pekan melalui tahapan fermentasi ketan yang teliti. Desa Kaliabu di Kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun, dikenal sebagai salah satu sentra utama yang konsisten melestarikan warisan kuliner ini secara turun-temurun.

Asal-usul nama brem sendiri diyakini berakar dari kata "peram," yang merujuk pada proses mendiamkan bahan baku selama beberapa hari. Konon, pelafalan kata peram yang terdengar seperti prem lambat laun berubah menjadi istilah brem yang dikenal luas hingga kini. Pada masa lalu, makanan ini bahkan tergolong sebagai suguhan mewah karena beras ketan putih sebagai bahan utamanya merupakan komoditas yang cukup berharga dan tidak sembarangan dikonsumsi oleh semua kalangan.

Proses pengolahannya menuntut kesabaran tinggi. Beras ketan putih dicuci bersih, dikukus hingga matang, lalu didinginkan sebelum dicampur dengan ragi. Adonan tersebut kemudian disimpan rapat dalam wadah tertutup selama kurang lebih tujuh hari hingga berubah wujud menjadi tape. Tahap selanjutnya adalah memeras tape ketan tersebut untuk mengambil sari cairannya, yang kemudian disaring, dimasak, hingga mengental menjadi adonan siap cetak.

Menariknya, hingga saat ini para perajin rumahan di Desa Kaliabu masih mempertahankan metode penjemuran tradisional menggunakan tenaga matahari untuk mengeringkan adonan brem. Ketika cuaca terik, pengeringan hanya memakan waktu setengah hari, sementara di musim hujan proses ini bisa berlangsung hingga dua hari lamanya. Berkat ketekunan masyarakat setempat, industri rumahan di desa ini mampu memproduksi ribuan kemasan brem setiap harinya untuk didistribusikan ke berbagai daerah seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, hingga Yogyakarta.

Seiring berjalannya waktu, brem juga terus berinovasi mengikuti selera pasar modern. Jika dahulu hanya dikenal varian rasa original, kini para produsen telah menghadirkan beragam pilihan rasa kekinian seperti cokelat, stroberi, melon, jeruk, hingga durian. Transformasi ini membuktikan bahwa camilan tradisional tidak hanya mampu bertahan di tengah gempuran zaman, tetapi juga tetap menjadi penggerak roda ekonomi kerakyatan sekaligus ikon oleh-oleh kebanggaan Jawa Timur yang selalu dirindukan. (int)