Gelar sarjana bukanlah jaminan kesuksesan, tetapi ia bisa menjadi bekal awal untuk melangkah dengan percaya diri.
Di sinilah pentingnya memaknai wisuda tidak hanya sebagai capaian pribadi melainkan sebagai titik tolak menuju kontribusi nyata. Apa yang akan kita lakukan setelah ini? Apa ilmu dan nilai yang akan kita bawa untuk memberi manfaat bagi masyarakat luas? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini jauh lebih penting daripada sekadar di mana kita bekerja atau berapa gaji pertama kita.
Namun perlu Kawan GNFI akui, tidak semua orang memiliki kesempatan untuk sampai pada titik ini. Ada banyak individu yang terpaksa berhenti di tengah jalan karena keterbatasan ekonomi, tanggung jawab keluarga, atau sistem pendidikan yang belum inklusif.
Oleh karena itu, ketika kita merayakan wisuda, penting untuk menyadari bahwa momen ini adalah bentuk privilege, sebuah hak istimewa yang tidak dinikmati semua orang.
Dengan kesadaran ini, seharusnya wisuda juga menjadi momentum untuk menumbuhkan empati dan solidaritas. Apakah kita akan membiarkan ilmu dan gelar kita hanya untuk kepentingan pribadi? Ataukah kita akan menjadikannya sebagai alat untuk menciptakan perubahan, sekecil apapun itu, di lingkungan sekitar kita?