Dalam konteks budaya Indonesia, wisuda bukan hanya penting bagi individu, tetapi juga bagi keluarga. Bagi banyak orang tua, menyaksikan anaknya diwisuda adalah puncak harapan dan kebanggan yang tak ternilai.
Ini bukan sekadar soal pendidikan, tetapi juga soal pengakuan sosial tentang keberhasilan mendidik anak, tentang peningkatan taraf hidup, dan tentang harapan masa depan. Namun penting juga untuk tidak terjebak pada simbolisme semata.
Toga dan ijazah hanyalah simbol, sedangkan esensi dari pendidikan adalah bagaimana kita mengembangkan akal, etika, dan empati. Seorang sarjana bukan hanya dituntut untuk pintar, tetapi juga untuk bijak dan bertanggung jawab.
Wisuda memang layak dirayakan. Dikutip dari laman Kreasi Muda Indonesia, perayaan wisuda wajib dirayakan dengan atribut seperti toga wisuda, topi wisuda, samir atau selempang wisuda, kemeja putih, hingga sepatu. Hal ini menjadi momen berharga yang menandai pencapaian besar dalam hidup seseorang.
Namun lebih dari itu, wisuda adalah simbol perjalanan bukan hanya perjalanan akademik, tetapi juga perjalanan membentuk diri, membangun mimpi, dan mempersiapkan masa depan. Selebrasi penting, tetapi tidak boleh melupakan esensinya bahwa ilmu adalah tanggung jawab, dan perjalanan setelah wisuda mungkin jauh lebih menantang daripada yang pernah kita bayangkan.