Perubahan besar ini menantang para pemimpin dari generasi sebelumnya. Gaya otoritatif kini tergantikan oleh pendekatan coaching dan mentoring. Pemimpin dituntut untuk lebih empatik, komunikatif, dan terbuka terhadap ide-ide muda.
Namun, di sisi lain, Generasi Z juga perlu belajar soal disiplin dan tanggung jawab, agar fleksibilitas tidak disalahartikan sebagai kebebasan tanpa batas.
Perubahan budaya kerja yang dipicu Generasi Z turut mendorong reformasi kebijakan ketenagakerjaan di Indonesia. Pemerintah dan dunia usaha kini lebih memperhatikan isu kesejahteraan mental, jam kerja fleksibel, dan pengembangan keterampilan digital.
Lembaga pendidikan juga beradaptasi. Kampus mulai menanamkan mata kuliah seperti literasi digital, kepemimpinan kolaboratif, dan inovasi sosial agar lulusan siap menghadapi dunia kerja yang terus berubah.