MALANG, PustakaJC.co - Kabupaten Malang kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu daerah dengan jumlah Pekerja Migran Indonesia (PMI) tertinggi di Jawa Timur. Berdasarkan data Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) tahun 2025, total 8.032 warga Malang telah bekerja di luar negeri, menempatkan daerah ini di peringkat kedua di Jatim dan kedelapan nasional.
Fenomena ini terutama didominasi oleh pekerja perempuan pada sektor informal seperti asisten rumah tangga, baby sitter, dan caregiver. Kepala Bidang Penempatan Tenaga Kerja Disnaker Kabupaten Malang, Tri Darmawan, mengatakan minat tinggi masyarakat dipicu oleh persyaratan yang relatif mudah, dimana lulusan SMP sudah dapat mendaftar sebagai PMI sektor informal. Dilansir dari bhirawaonline.co.id, Rabu, (10/12/2025).
“Sebesar 85,6 persen atau 6.875 orang merupakan pekerja informal, sementara 14,4 persen atau 1.157 orang bekerja sebagai tenaga formal di sektor industri, konstruksi, atau manufaktur,” jelas Tri, Selasa, (9/12/2025).
Hongkong menjadi negara tujuan favorit dengan 5.893 pekerja, disusul Taiwan sebanyak 1.467 pekerja. Negara lain yang juga menjadi sasaran antara lain Singapura, Malaysia, Jepang, Brunei Darussalam, Arab Saudi, hingga Korea Selatan.
Tri menambahkan, testimoni dari keluarga dan kerabat menjadi pendorong utama warga memilih bekerja di luar negeri. Selain itu, besaran gaji yang ditawarkan juga menjadi faktor signifikan. Tenaga informal di Malaysia dapat memperoleh Rp5–6 juta per bulan, di Singapura sekitar Rp7 juta, di Hongkong mencapai Rp9 juta, dan di Taiwan bahkan menembus Rp10 juta per bulan. Pendapatan tenaga formal bisa lebih tinggi, terutama bila mendapatkan jam lembur.
“Negara tetap memberikan perlindungan kepada para PMI sesuai aturan yang berlaku. Banyak dari mereka tertarik karena pendapatan di luar negeri jauh lebih tinggi dibandingkan bekerja di dalam negeri,” pungkasnya. (ivan)