Kesehatan Mental dalam Islam: Bukan Sekadar Soal Pikiran, Tapi Juga Hubungan dengan Allah

gaya hidup | 02 Juni 2026 09:35

 

Karena itu, menjaga jarak dari hubungan yang bersifat toksik, penuh manipulasi, penghinaan, maupun tekanan emosional dipandang sebagai langkah yang dibenarkan selama dilakukan secara proporsional dan tetap menjaga akhlak.

 

Meski demikian, artikel tersebut menegaskan bahwa pendekatan spiritual tidak boleh dipahami sebagai pengganti bantuan medis dan psikologis. Seseorang yang mengalami depresi berat, trauma mendalam, gangguan kecemasan serius, atau dorongan menyakiti diri sendiri tetap dianjurkan untuk segera mencari bantuan profesional.

 

Dalam Islam, upaya mencari pertolongan medis dan psikologis merupakan bagian dari ikhtiar menjaga jiwa atau hifzhun nafs yang menjadi salah satu tujuan utama syariat.

 

Pada akhirnya, kesehatan mental dalam perspektif Islam tidak hanya dibangun melalui ibadah, tetapi juga melalui lingkungan yang positif, kemampuan mengelola emosi, serta kesediaan mencari bantuan ketika dibutuhkan.

 

Dengan fondasi iman yang kuat, lingkungan yang sehat, dan ikhtiar yang tepat, seseorang diharapkan mampu menghadapi berbagai ujian kehidupan dengan lebih tenang, sabar, dan bermartabat. (ivan)