SURABAYA, PustakaJC.co – Isu kesehatan mental semakin menjadi perhatian di tengah kehidupan modern yang penuh tekanan. Mulai dari tuntutan pekerjaan, masalah ekonomi, konflik keluarga hingga pengaruh media sosial, berbagai faktor tersebut dapat memicu kecemasan, stres, depresi, dan gangguan psikologis lainnya.
Dalam artikel yang dimuat NU Online, Selasa, (2/6/2026), dijelaskan bahwa kesehatan mental tidak hanya berkaitan dengan kondisi psikologis, tetapi juga menyangkut keseimbangan antara pikiran, emosi, perilaku, dan aspek spiritual seseorang. Dilansir darj nu.or.id, Selasa, (2/6/2026).
Mengacu pada pandangan pakar psikologi Indonesia, Zakiah Daradjat, kesehatan mental merupakan kondisi ketika seseorang mampu menjaga keseimbangan hidup sehingga dapat menghadapi berbagai persoalan tanpa mengalami kehancuran emosional.
Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa pada 2021 hampir 1,1 miliar penduduk dunia hidup dengan gangguan mental. Angka tersebut menegaskan bahwa persoalan kesehatan jiwa bukan masalah sepele dan memerlukan perhatian serius dari berbagai pihak.
Dalam perspektif Islam, perhatian terhadap kesehatan mental telah dibahas sejak berabad-abad lalu. Ulama sekaligus ilmuwan Muslim, Abu Zayd Al-Balkhi, menjelaskan bahwa manusia dapat mengalami gangguan jiwa berupa rasa takut, sedih, marah, cemas, dan berbagai tekanan batin lainnya.
Menurutnya, gangguan mental justru lebih sering dialami manusia dibandingkan penyakit fisik.
Artikel tersebut menjelaskan bahwa Islam menawarkan sejumlah pendekatan untuk menjaga kesehatan mental. Salah satunya adalah membangun jiwa yang tenang atau thuma’ninah melalui zikir, doa, shalat, membaca Al-Qur’an, dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT.
Landasan tersebut merujuk pada firman Allah dalam Surah Ar-Ra’d ayat 28 yang menyebutkan bahwa hati akan menjadi tenteram dengan mengingat Allah.
Selain penguatan spiritual, Islam juga menekankan pentingnya lingkungan sosial yang sehat. Hubungan pertemanan dan pergaulan dinilai memiliki pengaruh besar terhadap kondisi psikologis seseorang.
Rasulullah SAW mengajarkan agar umat Islam selektif dalam memilih teman dekat karena seseorang cenderung mengikuti karakter dan kebiasaan lingkungan pergaulannya.
Karena itu, menjaga jarak dari hubungan yang bersifat toksik, penuh manipulasi, penghinaan, maupun tekanan emosional dipandang sebagai langkah yang dibenarkan selama dilakukan secara proporsional dan tetap menjaga akhlak.
Meski demikian, artikel tersebut menegaskan bahwa pendekatan spiritual tidak boleh dipahami sebagai pengganti bantuan medis dan psikologis. Seseorang yang mengalami depresi berat, trauma mendalam, gangguan kecemasan serius, atau dorongan menyakiti diri sendiri tetap dianjurkan untuk segera mencari bantuan profesional.
Dalam Islam, upaya mencari pertolongan medis dan psikologis merupakan bagian dari ikhtiar menjaga jiwa atau hifzhun nafs yang menjadi salah satu tujuan utama syariat.
Pada akhirnya, kesehatan mental dalam perspektif Islam tidak hanya dibangun melalui ibadah, tetapi juga melalui lingkungan yang positif, kemampuan mengelola emosi, serta kesediaan mencari bantuan ketika dibutuhkan.
Dengan fondasi iman yang kuat, lingkungan yang sehat, dan ikhtiar yang tepat, seseorang diharapkan mampu menghadapi berbagai ujian kehidupan dengan lebih tenang, sabar, dan bermartabat. (ivan)