SURABAYA, PustakaJC.co – Telur ayam merupakan salah satu bahan pangan yang paling sering dikonsumsi masyarakat. Selain mudah diperoleh, telur juga dikenal sebagai sumber protein yang terjangkau dan kaya nutrisi yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Rabu, (3/6/2026).
Meski demikian, masih banyak masyarakat yang penasaran mengapa telur yang dibeli di pasar tradisional maupun supermarket tidak pernah menetas menjadi anak ayam. Demikian dilansir dari radarsurabaya.jawapos.com, Rabu, (3/6/2026).
Hal tersebut berkaitan erat dengan proses produksi telur konsumsi yang dihasilkan oleh peternakan ayam petelur. Sebagian besar ayam petelur dipelihara secara khusus untuk menghasilkan telur dalam jumlah besar dan umumnya tidak dikawinkan dengan ayam jantan.
Karena tidak melalui proses pembuahan, telur yang dihasilkan ayam betina tersebut tidak mengandung embrio. Dengan demikian, telur hanya merupakan hasil ovulasi alami yang tidak memiliki potensi untuk berkembang menjadi anak ayam.
Dalam proses pemeliharaannya, peternak menerapkan berbagai standar untuk menjaga kesehatan ayam dan kualitas telur yang dihasilkan. Mulai dari pemberian pakan bergizi, suplemen vitamin, hingga menjaga kebersihan lingkungan kandang agar produktivitas ayam tetap optimal.
Setelah dipanen, telur akan melalui tahap penyortiran berdasarkan kualitas. Telur yang retak, kotor, atau tidak memenuhi standar ukuran biasanya dipisahkan. Selanjutnya, telur yang lolos seleksi akan dikemas dan didistribusikan ke berbagai daerah melalui jaringan agen dan distributor.
Karena tidak mengalami proses pembuahan, telur konsumsi yang beredar di pasaran tidak akan pernah menetas menjadi anak ayam. Telur tersebut aman untuk dikonsumsi dan merupakan bagian dari siklus reproduksi alami ayam betina yang tidak dibuahi. (frchn)