Perawatan Rumahan yang Tidak Sesuai Berisiko Mengiritasi Kulit

gaya hidup | 15 Juni 2026 11:46

Perawatan Rumahan yang Tidak Sesuai Berisiko Mengiritasi Kulit
(dok detikcom)

JAKARTA, PustakaJC.co – Perawatan kulit menggunakan bahan-bahan alami yang tersedia di rumah tidak selalu aman dilakukan. Jika digunakan tanpa pemahaman yang tepat, berbagai bahan tersebut justru berisiko mengiritasi kulit, mengganggu keseimbangan pH, hingga memicu masalah kulit yang lebih serius.

Dokter kulit sekaligus pendiri Zolie Skin di New Delhi, India, Dr. Nirupama Parwanda, mengatakan tren perawatan kulit rumahan yang banyak beredar di media sosial perlu disikapi dengan hati-hati. Menurutnya, bahan alami tidak selalu cocok untuk semua jenis kulit karena setiap orang memiliki kondisi dan kebutuhan kulit yang berbeda.

“Bahan alami tidak selalu berarti aman. Penggunaan yang tidak tepat dapat menimbulkan iritasi, kekeringan, kemerahan, bahkan meningkatkan sensitivitas kulit,” ujarnya.

Parwanda menjelaskan beberapa bahan yang sering digunakan dalam perawatan rumahan seperti jus lemon, soda kue, pasta gigi, dan minyak esensial yang tidak diencerkan berpotensi merusak keseimbangan pH kulit. Kondisi tersebut dapat mengganggu fungsi lapisan pelindung kulit sehingga lebih rentan terhadap berbagai faktor lingkungan.

Selain itu, bahan alami seperti kayu manis, bawang putih, ekstrak neem, maupun lidah buaya juga berpotensi menimbulkan reaksi alergi pada sebagian orang.

Ia menambahkan reaksi yang muncul dapat berupa peradangan, gatal, sensasi terbakar, hingga ruam pada kulit, terutama jika bahan yang digunakan tidak memiliki standar kualitas dan keamanan yang jelas.

Parwanda juga mengingatkan risiko munculnya hiperpigmentasi pascainflamasi atau post-inflammatory hyperpigmentation (PIH), yaitu kondisi munculnya bercak gelap setelah kulit mengalami iritasi atau peradangan.

Menurutnya, risiko lain yang perlu diwaspadai adalah kontaminasi bakteri pada bahan alami yang tidak disimpan dengan baik. Penggunaan bahan yang telah terkontaminasi dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi kulit.

Karena itu, Parwanda menyarankan masyarakat lebih selektif dalam mengikuti tren perawatan kulit yang beredar di media sosial dan berkonsultasi dengan tenaga medis apabila ingin mencoba metode perawatan tertentu.

Ia menegaskan bahwa perawatan kulit yang aman tidak hanya bergantung pada bahan yang digunakan, tetapi juga harus disesuaikan dengan kondisi kulit masing-masing agar manfaat yang diperoleh lebih optimal dan terhindar dari risiko efek samping. (nov)