Ia menambahkan reaksi yang muncul dapat berupa peradangan, gatal, sensasi terbakar, hingga ruam pada kulit, terutama jika bahan yang digunakan tidak memiliki standar kualitas dan keamanan yang jelas.
Parwanda juga mengingatkan risiko munculnya hiperpigmentasi pascainflamasi atau post-inflammatory hyperpigmentation (PIH), yaitu kondisi munculnya bercak gelap setelah kulit mengalami iritasi atau peradangan.
Menurutnya, risiko lain yang perlu diwaspadai adalah kontaminasi bakteri pada bahan alami yang tidak disimpan dengan baik. Penggunaan bahan yang telah terkontaminasi dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi kulit.
Karena itu, Parwanda menyarankan masyarakat lebih selektif dalam mengikuti tren perawatan kulit yang beredar di media sosial dan berkonsultasi dengan tenaga medis apabila ingin mencoba metode perawatan tertentu.
Ia menegaskan bahwa perawatan kulit yang aman tidak hanya bergantung pada bahan yang digunakan, tetapi juga harus disesuaikan dengan kondisi kulit masing-masing agar manfaat yang diperoleh lebih optimal dan terhindar dari risiko efek samping. (nov)