Dokter Ingatkan Pelari Maraton Waspadai Lonjakan Detak Jantung Saat Berlomba

gaya hidup | 15 Juni 2026 20:46

Dokter Ingatkan Pelari Maraton Waspadai Lonjakan Detak Jantung Saat Berlomba
(dok fimela)

DEPOK, PustakaJC.co – Dokter spesialis penyakit dalam Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), dr. Anindia Larasati, Sp.PD, FINASIM, mengingatkan para pelari untuk memantau detak jantung selama mengikuti lari maraton guna menghindari risiko gangguan kesehatan yang dapat muncul saat berolahraga dengan intensitas tinggi.

Dalam keterangannya di Depok, Jawa Barat, Senin (15/6/2026), Anindia menegaskan bahwa kondisi tubuh yang prima dan detak jantung yang normal menjadi syarat penting sebelum seseorang mengikuti lomba maraton.

Menurutnya, selama berlari para peserta perlu memperhatikan perubahan denyut jantung. Jika detak jantung meningkat terlalu tinggi, pelari disarankan untuk mengurangi intensitas aktivitas dengan berjalan terlebih dahulu hingga kondisi kembali stabil.

“Lebih baik kita hentikan dulu larinya, dengan berjalan menurunkan detak jantung kemudian dilanjutkan dengan berlari,” ujarnya.

Selain memantau detak jantung, pelari juga diminta segera menghentikan aktivitas apabila mengalami keluhan seperti sesak napas, nyeri dada, atau kram otot yang mengganggu.

Anindia menjelaskan bahwa persiapan menghadapi maraton tidak bisa dilakukan secara instan. Pelari perlu menjalani latihan yang disesuaikan dengan jarak tempuh dan tingkat kebugaran tubuh masing-masing.

Ia menyarankan persiapan maraton dimulai sekitar 12 hingga 16 minggu sebelum pelaksanaan lomba agar tubuh memiliki waktu yang cukup untuk beradaptasi dengan beban latihan.

Selain latihan fisik, pelari juga perlu memahami kondisi kesehatannya secara menyeluruh. Pemeriksaan kesehatan menjadi penting, terutama bagi mereka yang memiliki penyakit penyerta seperti hipertensi, diabetes, maupun penyakit jantung.

Menurut Anindia, kondisi penyakit yang tidak terkontrol dapat meningkatkan risiko saat berlari jarak jauh. Bahkan, penggunaan obat-obatan tertentu juga berpotensi memengaruhi detak jantung maupun kadar gula darah selama aktivitas fisik berlangsung.

“Bagaimana kondisi penyakit tersebut, apakah terkontrol atau tidak. Karena mungkin bila kita ada diabetes, hipertensi, atau penyakit jantung, ada obat-obat yang perlu disesuaikan dosisnya karena mungkin obat tersebut mengganggu kerja gula darah dan detak jantung selama pasien itu mungkin melakukan maraton,” jelasnya.

Tak hanya itu, aspek hidrasi juga menjadi perhatian penting. Anindia menyarankan pelari untuk mengonsumsi cairan secara teratur, setidaknya setiap menempuh jarak sekitar 2,5 kilometer guna mencegah dehidrasi selama perlombaan.

Setelah menyelesaikan maraton, pelari juga dianjurkan melakukan peregangan otot agar tubuh lebih cepat pulih dan terhindar dari risiko kram maupun cedera pasca-lomba.

Melalui persiapan yang matang, pemantauan kondisi tubuh, serta manajemen hidrasi yang baik, para pelari diharapkan dapat menyelesaikan maraton dengan aman sekaligus memperoleh manfaat optimal bagi kesehatan. (nov)