Riwayat Genetik hingga Gaya Hidup Jadi Faktor Risiko Stroke

gaya hidup | 20 Juni 2026 14:01

Riwayat Genetik hingga Gaya Hidup Jadi Faktor Risiko Stroke
(dok Ameera)

JAKARTA, PustakaJC.co– Stroke dapat dipicu oleh berbagai faktor risiko, mulai dari penyakit penyerta hingga riwayat genetik keluarga. Dokter spesialis saraf subspesialis neurokritikal dan intensif Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), dr. Ramdinal Aviesena Zairinal, Sp.N(K), menjelaskan bahwa stroke merupakan penyakit yang menyerang pembuluh darah di otak sehingga berbagai gangguan pada sistem vaskular berpotensi meningkatkan risikonya.

Menurut dokter yang akrab disapa Sena tersebut, faktor risiko stroke meliputi hipertensi, diabetes, penyakit jantung, hingga faktor yang tidak dapat dikendalikan seperti keturunan.

“Ketika stroke ini terjadi, memang ada banyak faktor risiko yang terlibat di sana. Ada darah tinggi, diabetes, sakit jantung, dan faktor-faktor yang tidak bisa dikontrol, misalnya ada keturunan,” ujarnya di Jakarta, Jumat (19/6/2026).

Sena menjelaskan, seseorang yang mengalami stroke sering kali memiliki kondisi kesehatan lain yang telah muncul sebelumnya. Karena itu, penanganan pasien stroke tidak hanya berfokus pada stroke itu sendiri, tetapi juga penyakit penyerta yang menjadi pemicunya.

Selain itu, risiko stroke juga dapat meningkat akibat kelainan pembuluh darah, gangguan kekentalan darah, maupun faktor genetik dalam keluarga. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa riwayat keluarga dengan stroke dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami kondisi serupa.

“Ketika ada orang tua yang mengalami stroke, maka penting sekali untuk keturunannya, anak-anaknya itu, untuk menjaga pola hidupnya, mendeteksi dini faktor risikonya,” kata Sena.

Ia juga menyoroti meningkatnya jumlah kasus stroke dalam beberapa dekade terakhir. Menurutnya, hal tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh perkembangan teknologi kesehatan yang membuat deteksi penyakit semakin baik, tetapi juga perubahan gaya hidup masyarakat.

Perubahan pola konsumsi dari makanan alami menuju makanan olahan (ultra-processed food), kurangnya aktivitas fisik, kebiasaan merokok, hingga stres akibat perkembangan media sosial dinilai turut meningkatkan risiko penyakit pembuluh darah, termasuk stroke.

“Karena jarang olahraga, merokok, mengonsumsi makanan yang tidak sehat, itulah yang membuat berisiko. Dan juga stresor itu juga kita tidak bisa pungkiri dengan kemajuan sosial media yang dialami zaman sekarang,” jelasnya.

Sena mengingatkan masyarakat untuk menerapkan pola hidup sehat, rutin berolahraga, menjaga pola makan, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala guna mendeteksi faktor risiko stroke sejak dini. (nov)