Selain faktor psikologis, melambungnya harga hunian hingga miliaran rupiah turut memengaruhi pola pikir anak muda. Ketika target membeli rumah terasa semakin mustahil dijangkau, sebagian orang memilih pasrah dan mengalokasikan uangnya untuk pengalaman jangka pendek. Menurut Melvin, pola pikir tersebut berisiko menjadi self-fulfilling prophecy yang menyulitkan kondisi keuangan di kemudian hari.
Meski demikian, Melvin menegaskan bahwa prinsip YOLO tidak selalu berdampak negatif selama dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Ia mengintroduksi konsep Healthy YOLO, yaitu pendekatan di mana seseorang tetap bisa menikmati hidup setelah pos kebutuhan masa depan terpenuhi.
"Saya lebih setuju dengan Healthy YOLO. Saya menikmati hidup sekarang karena saya sudah menyiapkan kebutuhan masa depan," tegasnya.