SURABAYA, PustakaJC.co - Turun langsung ke masyarakat jadi kunci Ning Lia Istifhama meraih suara terbanyak kedua nasional untuk DPD RI. Usai terpilih, ia tetap ngider, keliling kampung, menyapa rakyat tanpa jeda.
Gaya politik membumi jadi ciri khas Ning Lia Istifhama, anggota DPD RI asal Jawa Timur. Tak sekadar kampanye, kebiasaan mudun ngisor atau turun ke bawah tetap dilanjutkannya meski sudah berkantor di Senayan. Dilansir dari rm.id, Kamis, (3/7/2025).
“Politik itu amanah dan ketulusan. Kita tak boleh jauh dari masyarakat, jangan hanya berdiri di podium, tapi juga mendengarkan langsung di bawah,” ujar Ning Lia, Rabu, (2/7/2025).
Ning Lia tercatat sebagai senator perempuan non-petahana dengan perolehan suara terbanyak se-Indonesia, hanya kalah dari Komeng (Jawa Barat) dan Taj Yasin (Jawa Tengah) dalam Pemilu 2024.
Menurut Angel Kurnawati, salah satu timnya, aktivitas Ning Lia di Jawa Timur nyaris tak kenal lelah.
“Sehari bisa dua sampai empat titik. Kegiatannya antar kota, ketemu warga terus. Seakan nggak ada capeknya,” ujar Angel.
Senada dengan itu, Alfian dari jaringan Sahabat Ning Lia menambahkan, “Ning Lia itu selalu ngider. Tidak lelah mudun ngisor. Bahasa Jawanya: terus muter, terus menyapa.”
Dukungan terhadap gaya komunikasi politik Ning Lia juga datang dari akademisi. Pengamat politik Unesa, Mubarok, menyebut Lia menghadirkan tradisi baru dalam berpolitik.
“Sebagai putri tokoh NU KH. Maskur Hasyim, Ning Lia justru meninggalkan privilese dan turun langsung. Ia membangun koneksi tulus dengan konstituen. Ini gaya politik segar dan efektif,” ujar Mubarok.
Mubarok menilai pendekatan seperti itu sangat penting untuk menguatkan posisi DPD RI di mata masyarakat.
“Selama ini, banyak yang anggap politisi Cuma datang saat kampanye. Lia beda, dia tetap turun setelah menang,” ungkap pengamat politik Unesa itu.
Terbaru, dalam survei ARCI Academy yang dilakukan pada 20-29 Mei 2025 dengan 1.200 responden, margin of error 2,8 persen, dan tingkat kepercayaan 95 persen, Lia dinobatkan sebagai senator terpopuler Jawa Timur, mengungguli La Nyalla Mattalitti, Ahmad Nawardi, dan Kondang Kusumaning Ayu.
Gaya kepemimpinan yang menyapa rakyat langsung terbukti bukan sekadar pencitraan. Ning Lia menunjukkan bahwa keberhasilan politik bisa dicapai tanpa meninggalkan akar, tanpa harus naik podium tinggi, cukup dengan turun ke bawah—dan mendengarkan. (ivan)