“Pengunjung tidak boleh bawa makanan dari luar, tapi kami siapkan kuliner dari UMKM. Jadi beli tiket, dapat voucher makan. UMKM-nya jalan, pengunjung juga senang,” ujar Eri.
Warga pun menyambut positif. Salah satunya, Jeje Laurent (25), warga Genteng, yang datang bersama keponakannya.
“Taman Harmoni sekarang jauh lebih hidup. Ada edukasi, ada mainan, dan bisa belajar budaya luar juga. Anak kecil aman, orang tua pun bisa healing,” katanya.
Revitalisasi Taman Harmoni membuktikan bahwa ruang kota bisa diubah menjadi tempat yang penuh makna dan manfaat. Dari tempat pembuangan sampah menjadi taman dunia, Surabaya kembali menunjukkan komitmennya terhadap lingkungan, UMKM, dan kebahagiaan warganya. (ivan)