Medsos Jadi Ladang Radikalisme, BNPT Gandeng Kreator Animasi Edukasi Toleransi

pemerintahan | 25 Agustus 2025 20:47

Medsos Jadi Ladang Radikalisme, BNPT Gandeng Kreator Animasi Edukasi Toleransi
BNPT dan FKPT Jatim ganteng Minilemon dalam Rembuk Merah Putih di UINSA Surabaya, mendorong edukasi toleransi lewat animasi anak. (dok jawapos)

SURABAYA, PustakaJC.co – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bersama Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Timur mengingatkan ancaman radikalisme di era digital kian nyata. Konten intoleran kini mudah menyusup lewat media sosial dan jaringan terkecil masyarakat.

Kasubdit Pemberdayaan Masyarakat BNPT, Kolonel Sus Dr. Harianto, menegaskan bahwa metode perekrutan kelompok radikal semakin halus.

“Bisa masuk lewat rumah ke rumah, komunitas, hingga organisasi keagamaan. Karena itu masyarakat harus tetap waspada,” ungkapnya dalam forum Rembuk Merah Putih di UIN Sunan Ampel, Surabaya, dilansir dari jawapos.com, Senin, (25/8/2025).

Meski Indonesia pada 2023 tercatat berada di level zero terrorist attack, BNPT menekankan perlunya pencegahan sejak dini melalui pendekatan kreatif. Salah satunya dengan menggandeng kreator animasi lokal, Minilemon.

Founder Minilemon, Reno Halsamer, menilai animasi adalah sarana efektif untuk menyampaikan pesan toleransi kepada anak-anak.

“Anak usia dini hanya bisa disentuh lewat gambar bergerak, video, atau film. Karena itu nilai toleransi harus dikemas secara visual agar mudah ditangkap,” ujarnya.

Minilemon menampilkan enam karakter anak yang mewakili keberagaman etnis di Indonesia: Wayan (Bali), Ucup (Sunda), Togar (Batak), Slamet (Jawa), Minggus (Papua), dan Memey (Tionghoa). Melalui cerita pertemanan mereka, animasi ini menekankan pentingnya menghargai perbedaan.

Reno juga menyoroti peran keluarga, khususnya ibu, dalam mendampingi anak saat menonton.

 

“Pendekatan kepada anak dan ibu sangat penting agar pesan toleransi bisa sampai,” tambahnya.

Upaya ini menjadi bentuk sinergi kreator lokal dengan lembaga negara dalam menangkal paham intoleransi. Harapannya, generasi muda tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, kritis, sekaligus cinta tanah air. (ivan)