Suhu Capai 37,6°C! Lamongan Jadi Daerah Terpanas di Jawa Timur, BMKG Ingatkan Warga Waspada Panas Ekstrem

pemerintahan | 19 Oktober 2025 05:29

Suhu Capai 37,6°C! Lamongan Jadi Daerah Terpanas di Jawa Timur, BMKG Ingatkan Warga Waspada Panas Ekstrem
Ilustrasi dok PustakaJC

SURABAYA, PustakaJC.co – Siap-siap kepanasan! Suhu udara di sebagian wilayah Jawa Timur hari ini bikin banyak warga “kipas manual” sampai kehabisan tenaga. Berdasarkan laporan resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Jawa Timur, Lamongan tercatat sebagai daerah terpanas dengan suhu mencapai 37,6 derajat Celsius.

 

Catatan tersebut diunggah BMKG melalui akun Instagram resminya @bmkg.iklimjatim. Dalam laporan itu, Lamongan memecahkan rekor harian tertinggi di antara 8 daerah lain di Jawa Timur.

 

“FYI: Suhu terpanas sepanjang historis data di Jawa Timur pernah terjadi di AWS Lamongan, yakni 39,9°C pada 17 Oktober 2018,” tulis BMKG dalam unggahannya.

 

Selain Lamongan, berikut daftar delapan daerah terpanas di Jatim versi BMKG:

Lamongan: 37,6°C

Surabaya, Jombang, dan Sampang: 36,8°C

Mojokerto: 36,4°C

Situbondo: 36,1°C

Ngawi dan Sidoarjo: 36,0°C

 

BMKG: Jangan Sepelekan Panas Ekstrem!

Melalui unggahan yang sama, BMKG mengingatkan masyarakat untuk waspada terhadap cuaca panas ekstrem yang berpotensi menyebabkan dehidrasi hingga heatstroke.

 

“Buat sobat iklim yang beraktivitas di luar ruangan, tetap jaga kesehatan dan jangan lupa cukupi asupan air tubuh serta memakai sunscreen,” tulis BMKG.

 

BMKG juga menjelaskan penyebab utama cuaca ekstrem ini, yakni pergeseran posisi semu matahari ke selatan Indonesia yang membuat pertumbuhan awan berkurang drastis. Akibatnya, radiasi matahari langsung menghantam permukaan bumi tanpa halangan.

 

Tips Bertahan di Tengah Gelombang Panas

BMKG menyarankan masyarakat untuk:

1. Hindari paparan langsung sinar matahari antara pukul 10.00–16.00 WIB.

2. Gunakan topi, payung, kacamata hitam, dan tabir surya (sunscreen).

3. Perbanyak minum air putih agar terhindar dari dehidrasi.

4. Kurangi aktivitas berat di luar ruangan.

 

Fenomena panas ekstrem ini diprediksi bertahan hingga akhir Oktober 2025, sebelum memasuki musim hujan awal November. (int)