Operasi Cuaca BPBD Jatim Difokuskan Kurangi Risiko Banjir

pemerintahan | 23 Januari 2026 05:58

Operasi Cuaca BPBD Jatim Difokuskan Kurangi Risiko Banjir
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa saat disapa warga di Kelurahan Bendomungal, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan. (dok bhirawa)

PASURUAN, PustakaJC.co – Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim melakukan operasi cuaca sebagai langkah antisipasi untuk mengurangi risiko banjir di sejumlah wilayah. Operasi tersebut telah berjalan sejak 5 Desember 2025.

 

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan, operasi cuaca dilakukan secara teknis dan terukur sehingga tidak banyak diketahui masyarakat. Padahal, langkah ini penting untuk menekan potensi hujan lebat yang dapat memicu banjir. Dilansir dari bhirawaonline.co.id, Jumat, (23/1/2026).

 

“Kalau tidak dilakukan operasi cuaca, potensi hujan akan lebih besar dan lebih lebat. Dampaknya, genangan banjir bisa terjadi di banyak titik,” ujar Khofifah saat peresmian kawasan terpadu dan terintegrasi di Kelurahan Bendomungal, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan, Rabu, (21/1/2026).

 

 

 

Dalam pelaksanaannya, BPBD Jatim melakukan tiga hingga empat sorti penerbangan setiap hari. Upaya tersebut menjadi bagian dari langkah perlindungan pemerintah daerah dalam meminimalkan dampak bencana hidrometeorologi.

 

Khofifah menjelaskan, berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), intensitas hujan di Jawa Timur pada Desember 2025 mengalami penurunan sekitar 20 persen. Namun, pada Januari 2026 intensitas hujan meningkat hingga 58 persen atau hampir tiga kali lipat dibandingkan Desember.

 

Sementara itu, pada Februari 2026 yang bertepatan dengan bulan Ramadan, intensitas hujan diperkirakan masih berada di angka 22 persen, atau tetap lebih tinggi dibandingkan Desember.

 

 

Lebih lanjut, Khofifah menyampaikan bahwa langkah mitigasi tersebut telah dibahas bersama Basarnas dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Teknologi operasi cuaca dilakukan dengan menurunkan awan hujan yang telah matang di wilayah laut sebelum bergerak ke daratan.

 

“Jika awan sudah masuk ke daratan, maka dilakukan pemecahan menggunakan kapur dengan pesawat Cessna,” jelasnya.

 

Meski demikian, Khofifah menegaskan tidak semua bencana alam dapat ditangani dengan teknologi. Untuk bencana seperti puting beliung dan gempa bumi, hingga kini belum ada teknologi yang mampu mengendalikan atau memindahkannya.

 

“Upaya manusia kita lakukan semaksimal mungkin. Selebihnya kita berdoa agar masyarakat dan wilayah kita selalu dilindungi,” pungkas Khofifah. (ivan)