SURABAYA, PustakaJC.co – Nilai Tukar Petani (NTP) Jawa Timur pada Januari 2026 tercatat 113,71, turun 4,42 persen dibanding Desember 2025. Penurunan ini dipicu anjloknya indeks harga yang diterima petani (It) yang lebih dalam dibanding penurunan indeks harga yang dibayar petani (Ib).
Statistisi BPS Jawa Timur Ike Rahayu Sri menjelaskan, It pada Januari 2026 turun 5,14 persen, sementara Ib turun 0,76 persen. Ketimpangan penurunan tersebut menekan daya tukar petani. Dilansir dari Kominfojatim.go.id, Selasa, (3/2/2026).
“Penurunan It yang lebih dalam dibandingkan Ib menjadi faktor utama turunnya NTP Januari 2026,”kata Ike dalam Berita Resmi Statistik (BRS), Senin, (2/2/2026).
Sejalan dengan itu, Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) Jawa Timur juga turun 5,40 persen, mencerminkan melemahnya kemampuan usaha tani dalam menutup biaya operasional dan konsumsi.
Namun, di tengah tekanan harga, kinerja produksi justru menunjukkan tren positif. Sepanjang 2025, luas panen padi Jawa Timur mencapai 1,84 juta hektare, naik 13,88 persen dibanding 2024.
Kenaikan luas panen berdampak pada lonjakan produksi. Produksi padi 2025 tercatat 10,44 juta ton GKG, meningkat 12,60 persen dari tahun sebelumnya. Produksi beras konsumsi pun naik signifikan menjadi 6,03 juta ton, atau bertambah 0,67 juta ton dibanding 2024.
Ike menegaskan, capaian ini menunjukkan kapasitas produksi pertanian Jawa Timur tetap kuat. Namun, stabilitas harga dan efisiensi biaya produksi menjadi pekerjaan rumah agar peningkatan produksi benar-benar berbanding lurus dengan kesejahteraan petani.
“Menjaga harga hasil pertanian tetap stabil dan menekan biaya produksi menjadi kunci agar NTP tetap menguntungkan petani,” pungkasnya. (ivan)