Bangun Sinergitas Tanggap Bencana, Disperpusip Jatim Beri Pelatihan Mendongeng Bagi Staf BPBD Jatim

pemerintahan | 03 Februari 2026 18:55

 

 

 

 

 

 

 

 

Terdapat 22 karyawan BPBD Jatim yang mendapatkan pelatihan mendongeng. Mereka diberikan tips dan trik dalam berdongeng yang menarik. Termasuk workshop cara membaca nyaring (read aloud). 

 

Salah satu pendongeng, Kartikanita Widyasari atau yang sering disapa Kak Ninit itu menjabarkan bahwa tips dan triks mendongeng adalah bagaimana mengawali agar anak-anak keranjingan membaca. Salah satunya bisa diawali dengan dongeng. 

 

"Dongeng adalah cerita nyata atau rekaan dengan cara ekspresif. Sehingga menimbulkan imajinatif. Imajinasi ini yang membuat keranjingan mereka. Dari manakah imajinasi itu. Tanpa disadari dari suka buku,” ujarnya

 

Tak hanya soal dongeng, perempuan yang juga tergabung dalam Kumpul Dongeng Surabaya itu memberikan workshop tentang cara read aloud. 

 

"_Reading is our busnines_. Urusan kita semua, apalagi seorang ibu. Pengenalan buku sejak sedini mungkin sangat penting kepada anak-anak,” katanya. 

 

Mendongeng pun bisa dijadikan pijakan agar anak keranjingan untuk membaca. Melalui dongeng dan read aloud diharapkan anak semakin suka dengan membaca buku.

 

Dikesempatan itu, Kak Nitnit pun mencontohkan bagaimana cara mendongeng yang menarik. Salah satu judul dongeng yang diangkat yakni Awas, Banjir Datang. Dongeng tersebut juga disiarkan melalui media online rutin lewat program Dongeng Online (Dolen) di instagram milik Disperpusip Jatim dihadapan 87 siswa-siswi TK Terpadu Baiturrahman Sidoarjo. 

 

Dirinya pun bercerita bagaimana peristiwa hujan turun begitu deras. Dengan ekspresi yang menarik serta dibumbui suara menggelegar, dirinya bercerita bagaimana dampak hujan yang ditimbulkan jika diakibatkan adanya kerusakan alam yang terjadi. 

 

"Kenapa sering terjadi banjir. Padahal dua tahun lalu rumah kita tidak pernah banjir. Oh itu karena sungai mampat yang makin penuh dengan sampah. Selain itu danau danau dekat rumah sebagian berubah jadi perumahan baru," cerita Kak Nitnit menirukan kata sangat Ayah dalam cerita tersebut. 

 

 

 

 

"Kenapa bisa banjir? Karena sungai dan danau tidak mampu menampung air. Dan lagi sungai mampat oleh sampah dan sebagian danau berubah jadi perumahan," imbuhnya.