Khofifah Sapa UMKM dan Seniman di Pasar Takjil Taman Krida Budaya Malang

pemerintahan | 22 Februari 2026 11:28

Khofifah Sapa UMKM dan Seniman di Pasar Takjil Taman Krida Budaya Malang
Pasar Takjil Ramadan yang diselenggarakan di Taman Krida Budaya Malang. (dok bhirawa)

MALANG, PustakaJC.co – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengunjungi Pasar Takjil Ramadan di Taman Krida Budaya Malang, Minggu, (22/2/2026). Kunjungan tersebut dirangkaikan dengan buka puasa bersama para seniman serta Juru Pelihara Cagar Budaya se-Jawa Timur.

 

Pasar Takjil yang berlangsung sejak 18 Februari hingga 17 Maret 2026 itu menjadi ruang ekonomi kreatif musiman yang dinanti masyarakat. Sedikitnya 150 stan makanan meramaikan kawasan tersebut, menawarkan kolak, gorengan, nasi campur, kurma, jus, buah, hingga kuliner tradisional khas Malang Raya.

 

Seluruh pedagang berasal dari wilayah Malang Raya. Kegiatan ini sekaligus menjadi penguatan ekonomi lokal dan pemberdayaan UMKM selama Ramadan, dengan jam kunjungan utama pukul 15.00–19.00 WIB dan sebagian pengunjung bertahan hingga malam.

 

Dalam kesempatan itu, Khofifah menyerahkan apresiasi kepada 90 perwakilan seniman, mulai dari pelaku seni Topeng, Tari, Ludruk, Bantengan, Jaranan, hingga kesenian tradisional lainnya. Masing-masing menerima Rp1 juta.

 

 

Sebanyak 20 Juru Pelihara Cagar Budaya—termasuk penjaga masjid kuno, candi, dan situs bersejarah—menerima Rp1,5 juta.

 

Khofifah menegaskan, penghargaan ini merupakan bentuk dukungan atas dedikasi para pelaku budaya dalam menjaga tradisi dan warisan sejarah Jawa Timur.

 

“Ini bentuk komitmen kami untuk terus melindungi, mengembangkan, dan memanfaatkan kebudayaan secara berkelanjutan, sekaligus memotivasi generasi penerus agar tetap mencintai identitas daerahnya,” ujarnya.

 

 

 

Momentum buka bersama juga dirangkaikan dengan penyerahan 46 Sertifikat Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Tahun 2025 dari Kementerian Kebudayaan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur, yang kemudian diserahkan kepada para bupati dan wali kota penerima.

 

Puluhan WBTB tersebut mencakup ekspresi budaya, tradisi, kesenian, kuliner, dan upacara adat dari berbagai daerah. Di antaranya Batik Ghentongan Tanjung Bumi dan Topeng Patengteng (Bangkalan), Angklung Banyuwangi, Oklik (Bojonegoro), Tape Bondowoso, Pasar Bandeng dan Kupat Keteg (Gresik), Sego Boran (Lamongan), Tari Glipang Rodat (Lumajang), Wayang Krucil Sriguwak (Ngawi), Wayang Kulit Madura (Pamekasan), Kaweng Tengger (Pasuruan), Tari Gambuh Sumenep, Batik Tenun Gedhog Tuban, Jaranan Sentherewe (Tulungagung), Lontong Balap (Surabaya), hingga Tahu Takwa (Kediri).

 

Khofifah menekankan, penetapan WBTB bukan sekadar pengakuan administratif, melainkan tanggung jawab kolektif untuk menjaga keberlanjutan budaya di tengah arus modernisasi.

 

“Warisan budaya ini harus tetap hidup, diwariskan, dan mampu memberi manfaat sosial-ekonomi bagi masyarakat,” tegasnya.

 

Pasar Takjil di Taman Krida Budaya Malang pun menjadi simbol sinergi antara penguatan ekonomi rakyat, pelestarian kebudayaan, dan nilai kebersamaan Ramadan di Jawa Timur. (ivan)