Hal serupa juga berlaku pada kelapa sawit. Indonesia yang menguasai lebih dari 60 persen produksi CPO dunia dinilai memiliki peluang besar untuk mengendalikan pasar global melalui pengembangan produk hilir seperti margarin, kosmetik, dan berbagai produk turunan lainnya.
“Gambir itu 80 persen kita suplai dunia. Tapi yang dikirim setengah jadi. Kalau kita hilirisasi, nilainya ribuan triliun. Nilai tambah tertinggi itu ada di hilir, bukan di hulu.” ungkapnya.
Menurut Amran, hilirisasi tidak hanya berdampak pada penguatan ekonomi nasional, tetapi juga membuka lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan petani, serta memperkuat posisi Indonesia di kancah internasional.