Koperasi yang dikelola oleh 12 pengurus tersebut awalnya berdiri dengan semangat tinggi dari para anggota. Modal awal sekitar Rp56 juta dihimpun dari iuran anggota yang sebelumnya tergabung dalam Koperasi Perikanan Sukamaju. Dana tersebut digunakan untuk renovasi bangunan sekaligus pembangunan gudang, yang berdiri di atas lahan milik salah satu pengurus.
Pada awal beroperasi sejak 21 Juli 2025, koperasi ini menjual berbagai kebutuhan pokok melalui kerja sama dengan sejumlah BUMN seperti ID Food, Bulog, dan Pertamina dengan skema konsinyasi. Sistem ini membuat harga barang lebih terjangkau dan mendapat respons positif dari masyarakat.
Namun, kondisi berubah ketika sistem pembayaran dialihkan menjadi tunai. Perubahan tersebut berdampak langsung pada arus kas koperasi. Dana yang dimiliki banyak terserap dalam bentuk stok barang, sehingga perputaran modal menjadi tersendat.