“Kami harus beli barang secara cash. Jadi uang tertahan di barang, perputaran tidak jalan,” jelas Andriansyah.
Di sisi lain, beban operasional yang tinggi semakin memperparah kondisi. Ia menyebutkan biaya listrik saja bisa mencapai sekitar Rp100 ribu per hari, belum termasuk gaji karyawan dan kebutuhan lainnya.
Upaya untuk mendapatkan tambahan modal juga belum membuahkan hasil. Pengurus sempat mengajukan pinjaman hingga Rp3 miliar ke sejumlah lembaga, termasuk Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) dan Bank Mandiri. Namun, pengajuan tersebut tidak disetujui, salah satunya karena adanya perubahan regulasi.