Ia meminta bupati dan wali kota segera menyusun plan of action, memetakan wilayah rawan, serta memastikan distribusi air bersih tepat sasaran. Pemantauan titik api juga harus diperketat.
Data Pemprov Jatim menunjukkan, 92–97 persen bencana periode 2022–2025 merupakan hidrometeorologi. Sementara pada triwulan pertama 2026 saja sudah terjadi 121 bencana, didominasi angin kencang dan banjir.
Berdasarkan rilis BMKG, musim kemarau 2026 diperkirakan mulai Mei di 56,9 persen wilayah Jatim, dengan puncak pada Agustus hingga mencakup lebih dari 70 persen wilayah. Durasi kemarau bahkan diprediksi mencapai 220–240 hari.
“Ini bukan lagi ancaman jangka panjang, tapi realitas yang kita hadapi. Respon kita harus cepat, terukur, dan berbasis data,” ujarnya.