GRESIK, PustakaJC.co — Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menegaskan pembangunan pabrik PT Geabh Joint Technology di kawasan KEK JIIPE menjadi langkah strategis dalam memperkuat hilirisasi industri kimia di Jawa Timur.
Hal tersebut disampaikan Emil usai menghadiri groundbreaking pembangunan pabrik, Rabu (8/4). Ia menilai investasi ini bukan sekadar seremoni, melainkan tonggak penting dalam membangun rantai industri kimia yang terintegrasi dan bernilai tambah tinggi.
“Groundbreaking ini menjadi penanda penguatan ekosistem industri kimia yang lebih terintegrasi, efisien, dan berdaya saing,” ujarnya.
Proyek Phase I of the 120,000 TPA Melamine Industrial Chain Project ini memiliki nilai investasi sekitar USD 600 juta atau setara Rp5,4 triliun. Pabrik ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal II tahun 2027.
Pada tahap awal, kapasitas produksi mencakup 800 ton per hari amonia, 200 ton per hari melamin, serta 1.500 ton per hari urea—komoditas strategis bagi berbagai sektor industri.
Emil menjelaskan, proyek ini merupakan kolaborasi investasi global, dengan komposisi 80 persen Sichuan Golden Elephant, 10 persen AICA Asia Pacific, dan 10 persen Aaronstone Chemtech.
Menurutnya, komposisi tersebut mencerminkan tingginya kepercayaan investor internasional terhadap iklim investasi di Jawa Timur.
Selain itu, lokasi proyek di KEK JIIPE yang terintegrasi dengan kawasan industri dan pelabuhan dinilai mampu meningkatkan efisiensi logistik serta memperkuat rantai pasok nasional dan global.
Dari sisi teknologi, pabrik ini mengusung proses generasi terbaru yang efisien energi, memenuhi standar keselamatan, serta mendukung prinsip industri hijau. Bahkan ke depan, pengembangannya berpotensi mencakup produksi bahan baterai lithium hingga Sustainable Aviation Fuel (SAF).
“Artinya, investasi ini tidak hanya menjawab kebutuhan industri saat ini, tetapi juga adaptif terhadap perkembangan industri masa depan,” tuturnya.
Tak hanya memperkuat industri, pembangunan pabrik ini juga diproyeksikan membuka sekitar 1.000 lapangan kerja baru serta menciptakan efek berganda bagi perekonomian masyarakat, khususnya di Gresik dan sekitarnya.
Emil juga memaparkan kinerja ekonomi Jawa Timur yang tetap menunjukkan tren positif. Pada 2025, ekonomi Jatim tumbuh 5,33 persen, melampaui rata-rata nasional, dengan sektor industri pengolahan sebagai penopang utama yang berkontribusi sekitar 31,64 persen terhadap PDRB.
Sementara itu, realisasi investasi Jawa Timur mencapai Rp145,1 triliun, memperkuat posisi provinsi ini sebagai salah satu tujuan utama investasi di Indonesia.
“Kami akan terus menjadi penjalin sinergi antara pemerintah dan dunia usaha agar investasi dapat berjalan optimal, inklusif, dan berkelanjutan,” tegas Emil.
Dengan masuknya investasi ini, Pemprov Jatim optimistis posisi Jawa Timur sebagai pusat industri kimia terintegrasi di Indonesia akan semakin kuat, sekaligus memperluas perannya dalam rantai pasok global.
Turut hadir dalam kegiatan ini antara lain Duta Besar RRT untuk Indonesia Wang Lutong, Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani, serta sejumlah pejabat kementerian, investor, dan pimpinan perusahaan terkait. (ivan)