Khofifah menegaskan, pengembangan kawasan ini tetap mengedepankan nilai budaya masyarakat lokal, khususnya Suku Tengger, yang selama ini menjadi penjaga tradisi dan kelestarian kawasan Bromo.
“Ini bukan sekadar proyek infrastruktur, tetapi bagian dari model pengelolaan kawasan konservasi yang modern tanpa mengesampingkan perlindungan lingkungan, budaya, dan kesejahteraan masyarakat,” katanya.
Pemprov Jatim pun optimistis JLKT akan menjadi wajah baru pengelolaan wisata Bromo yang lebih tertib, berkelas, dan memiliki daya saing global, namun tetap berakar pada kearifan lokal. (ivan)