Ia menilai, minimnya keterlibatan industri dalam proses penelitian menjadi salah satu penyebab rendahnya tingkat adopsi hasil riset. Selain itu, belum kuatnya mekanisme hilirisasi juga membuat hasil penelitian sulit diterjemahkan menjadi produk bernilai ekonomi.
Akibatnya, terjadi ketimpangan: kuat dalam menghasilkan riset, tetapi lemah dalam menciptakan dampak ekonomi yang nyata.
Untuk itu, Adik menekankan perlunya kolaborasi yang lebih erat antara akademisi, peneliti, pelaku industri, dan pemerintah. Ia juga mendorong perubahan paradigma riset di Jawa Timur agar lebih relevan dengan kebutuhan industri.
Pendekatan lama yang bersifat supply-driven—di mana akademisi menentukan topik riset—dinilai sudah tidak lagi memadai. Ia mengusulkan pergeseran menuju demand-driven research, yakni riset berbasis kebutuhan nyata industri.