SURABAYA, PustakaJC.co – Alarm bahaya Tuberkulosis kembali berbunyi. DPRD Jawa Timur mendesak skrining kesehatan tak berhenti di kota, tapi benar-benar menjangkau desa hingga kelurahan.
Wakil Ketua DPRD Jatim, Sri Wahyuni, menegaskan perlunya penguatan sinergi lintas sektor—mulai dari dinas kesehatan, pemerintah daerah, hingga masyarakat. Langkah ini dinilai krusial untuk menekan penyebaran TBC yang masih mengkhawatirkan. Dilansir dari kominfojatim.go.id, Kamis, (16/4/2026).
“Edukasi kepada masyarakat harus digencarkan, terutama soal pencegahan dan pentingnya pengobatan sampai tuntas,” ujarnya, Rabu, (15/4/2026).
Menurutnya, sebagai provinsi dengan jumlah penduduk besar, Jawa Timur memiliki risiko tinggi terhadap penyebaran penyakit menular. Karena itu, pendekatan yang lebih agresif, terstruktur, dan terintegrasi dibutuhkan—terutama untuk menemukan kasus-kasus tersembunyi yang belum terdeteksi.
Politisi Partai Demokrat itu menekankan, penanganan TBC tidak cukup hanya dari sisi medis. Faktor lingkungan, hunian layak, hingga kondisi sosial ekonomi masyarakat juga berperan besar dalam memutus rantai penularan.
Ia bahkan menyebut lonjakan kasus TBC sebagai situasi darurat kesehatan. “Kasus Tuberkulosis sudah menembus lebih dari satu juta secara nasional, dan ratusan ribu di antaranya belum terdeteksi. Ini tidak bisa dianggap biasa,” tegasnya.
DPRD Jatim, lanjutnya, berkomitmen memperkuat dukungan dari sisi anggaran, regulasi, hingga pengawasan program agar penanganan TBC berjalan efektif dan tepat sasaran.
Sementara itu, Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus mengungkapkan, dari total 1,09 juta kasus TBC nasional, sekitar 867 ribu telah ditangani. Namun, masih ada sekitar 300 ribu kasus yang belum teridentifikasi.
Situasi ini menjadi peringatan keras: tanpa deteksi dini dan keterlibatan masyarakat, TBC akan terus menjadi ancaman nyata. (ivan)