Misi Dagang Jatim–Kalteng Tembus Rp2,08 Triliun, Khofifah Perkuat Rantai Pasok Antarwilayah

pemerintahan | 26 April 2026 07:00

Misi Dagang Jatim–Kalteng Tembus Rp2,08 Triliun, Khofifah Perkuat Rantai Pasok Antarwilayah
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa berjalan bersama Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran dan jajaran perangkat daerah saat menghadiri rangkaian kegiatan Misi Dagang dan Investasi Jawa Timur–Kalimantan Tengah di Hotel M Bahalap. Suasana terlihat dinamis dengan para pemangku kepentingan mengikuti jalannya acara sebagai bagian dari upaya memperkuat sinergi perdagangan dan kerja sama antarwilayah.

PALANGKARAYA, PustakaJC.co - Khofifah Indar Parawansa memimpin langsung Misi Dagang dan Investasi Provinsi Jawa Timur ke Kalimantan Tengah yang sukses membukukan komitmen transaksi final sebesar Rp2,082 triliun lebih.

 

Kegiatan yang digelar di Hotel M Bahalap ini turut dihadiri Agustiar Sabran, jajaran OPD, serta pelaku usaha dari kedua provinsi dalam skema business matching antara penjual dan pembeli.

 

Khofifah menegaskan, misi dagang menjadi langkah konkret mempertemukan potensi dan kebutuhan antarwilayah sekaligus memperkuat konektivitas perdagangan domestik.

 

“Terlihat kebutuhan kedua daerah saling melengkapi. Ini membuka peluang kerja sama luas, dan alhamdulillah transaksi menembus Rp2,082 triliun lebih,” ujarnya.

 

 

Ia menekankan, misi dagang bukan sekadar promosi, melainkan instrumen strategis untuk menghadirkan transaksi riil dan kemitraan berkelanjutan.

 

“Kita ingin setiap pertemuan menghasilkan nilai tambah—ada transaksi, ada kemitraan, dan ada keberlanjutan. Ini bagian dari menjahit NKRI dan kenusantaraan,” tegasnya.

 

Dari total nilai tersebut, penjualan Jawa Timur mencapai Rp1,79 triliun, pembelian Rp193,55 miliar, serta komitmen investasi Rp90 miliar. Komoditas yang diperdagangkan meliputi sektor peternakan, perikanan, pertanian, hingga industri olahan seperti telur ayam, daging unggas, kopi robusta, pupuk organik, hingga produk makanan olahan dan frozen food.

 

Sementara dari Kalimantan Tengah, Jawa Timur memperoleh komoditas strategis seperti udang vaname, kayu bulat, dan rotan. Kerja sama investasi juga diarahkan pada sektor gula merah tebu, pertambangan, dan budidaya ikan patin.

 

Menurut Khofifah, pola perdagangan dua arah ini penting untuk memperkuat rantai pasok nasional sekaligus mengoptimalkan distribusi logistik antarwilayah.

 

 

Sepuluh transaksi terbesar didominasi sektor strategis, di antaranya produk peternakan senilai Rp1,21 triliun per tahun, pupuk organik cair Rp227,25 miliar untuk lima tahun, hingga industri hasil tembakau Rp163,74 miliar per tahun.

 

Di sisi lain, kinerja ekonomi Jawa Timur menunjukkan tren positif. Tahun 2025, ekonomi Jatim tumbuh 5,85 persen (yoy), melampaui nasional 5,39 persen, dengan PDRB mencapai Rp3.403,17 triliun dan kontribusi 14,40 persen terhadap PDB nasional.

 

Perdagangan antarwilayah juga mencatat nilai Rp333,83 triliun, menandakan tingginya aktivitas industri yang membutuhkan pasokan bahan baku dari daerah lain, termasuk Kalimantan Tengah.

 

Sejak 2019 hingga 2026, Pemprov Jatim telah menggelar 51 misi dagang di 29 provinsi dengan total komitmen Rp38,32 triliun dari lebih 2.200 transaksi. Ekspansi juga dilakukan ke pasar global seperti Arab Saudi, Malaysia, Jepang, hingga Singapura dengan potensi transaksi Rp5,896 triliun.

 

 

Sementara itu, Agustiar Sabran menyebut misi dagang ini sebagai momentum strategis memperkuat kolaborasi antar daerah.

 

“Kami menyambut baik sebagai pintu gerbang kerja sama yang lebih luas, tidak hanya perdagangan, tapi juga investasi, hilirisasi industri, dan penguatan rantai pasok,” pungkasnya. (ivan)