Khofifah Wanti-Wanti Kenaikan Harga, Pasokan SPHP dan Minyakita Harus Terjamin

pemerintahan | 01 Juni 2026 11:51

Khofifah Wanti-Wanti Kenaikan Harga, Pasokan SPHP dan Minyakita Harus Terjamin
Gubernur Khofifah Minta Pasokan Beras SPHP dan Minyakita Segera Dipenuhi di Pasar Klojen. (dok kominfo)

MALANG, PustakaJC.co – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meminta pasokan beras medium Stabilitas Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) serta Minyakita segera dipenuhi di Pasar Klojen, Kota Malang. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga keterjangkauan harga dan daya beli masyarakat di tengah potensi gejolak harga sejumlah komoditas pangan.

 

Permintaan itu disampaikan Khofifah saat meninjau langsung kondisi harga dan ketersediaan bahan pokok di Pasar Klojen, Jumat, (29/5/2026). Dalam kunjungan tersebut, ia didampingi Wali Kota Malang Wahyu Hidayat dan meninjau sejumlah lapak pedagang sembako, sayuran, daging ayam, hingga daging sapi. Dilansir dari kominfojatim.go.id, Senin, (1/6/2026).

 

Menurut Khofifah, keberadaan beras SPHP dan Minyakita harus dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Karena itu, koordinasi antara Disperindag Jawa Timur, Pemerintah Kota Malang, dan Perum Bulog perlu diperkuat agar distribusi kedua komoditas tersebut berjalan lancar.

 

“Bahwa sebagian besar masyarakat Kota Malang standarnya sudah beras premium, tapi beras medium harus kita siapkan. Karena kita punya stok beras medium SPHP di Jawa Timur ini jumlahnya cukup tinggi,” ujar Khofifah.

 

 

Ia menegaskan, pemerintah harus memastikan seluruh masyarakat dapat mengakses kebutuhan pokok dengan harga yang terjangkau. Temuan di lapangan menunjukkan harga Minyakita di sejumlah toko masih berada di atas harga eceran tertinggi (HET).

 

“Temuan ini menjadi perhatian serius agar keterjangkauan harga bagi masyarakat dapat segera dikembalikan ke tingkat yang wajar dan terkontrol. Tadi saya cek, selisihnya cukup tinggi dari harga eceran tertinggi untuk Minyakita dengan yang dijual di beberapa toko sembako di sini,” katanya.

 

Selain menyoroti pasokan SPHP dan Minyakita, Khofifah juga mengingatkan pentingnya kerja sama antardaerah untuk mengantisipasi lonjakan harga komoditas yang berpotensi memicu inflasi, seperti cabai rawit dan bawang merah.

 

Berdasarkan hasil pemantauan, harga bawang merah mengalami kenaikan dari kisaran Rp35 ribu–Rp45 ribu per kilogram menjadi Rp55 ribu–Rp60 ribu per kilogram. Sementara harga cabai rawit di Pasar Klojen berada di kisaran Rp100 ribu–Rp120 ribu per kilogram, meski di beberapa pasar lain di Malang masih ditemukan harga sekitar Rp80 ribu per kilogram.

 

“Di sinilah peran pentingnya koordinasi antar daerah. Harga apa yang menjadi penyebab kemungkinan potensi inflasi itu terjadi, nah itu yang bisa dilakukan langkah-langkah mitigatif dan antisipatif bersama sejak dini,” jelasnya.

 

 

 

Di sisi lain, Khofifah menyebut harga telur saat ini relatif stabil bahkan cenderung menurun. Harga daging sapi juga terpantau stabil menjelang Idul Adha, berbeda dengan tren yang biasanya terjadi menjelang Ramadan maupun setelah Idul Fitri.

 

Melalui berbagai langkah pengendalian harga dan penguatan distribusi pangan, Pemprov Jawa Timur berkomitmen menjaga daya beli masyarakat sekaligus memastikan inflasi daerah tetap terkendali.

 

Pada kesempatan tersebut, Khofifah juga mengapresiasi pengelolaan Pasar Klojen yang dinilai berhasil mengintegrasikan pasar basah dengan sentra kuliner tradisional. Menurutnya, konsep tersebut dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam mengembangkan pasar rakyat yang bersih, tertata, dan produktif.

 

“Ini menurut saya bisa menjadi referensi di tengah proses mungkin inovasi-inovasi dari bupati dan wali kota yang lain. Saya rasa ini luar biasa,” pungkasnya. (ivan)