Begini Jurus Pemprov Jatim Hadapi Surplus Produksi dan Anjloknya Harga Telur

pemerintahan | 06 Juni 2026 08:16

 

Pemprov Jatim juga menyoroti panjangnya rantai distribusi yang menyebabkan harga telur di tingkat peternak tetap rendah. Selama ini, telur yang masuk ke dapur MBG umumnya telah dibeli dengan harga yang cukup baik, namun tidak langsung berasal dari peternak.

 

Akibatnya, peternak hanya menerima harga sekitar Rp20.000 per kilogram, sementara telur yang sama dapat dijual ke dapur MBG dengan harga mencapai sekitar Rp25.000 per kilogram.

 

Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah mendorong pembelian langsung melalui koperasi peternak. Dengan skema ini, keuntungan yang selama ini dinikmati perantara diharapkan dapat lebih banyak dirasakan oleh peternak sebagai produsen utama.

 

Sementara itu, Kepala Dinas Peternakan Jawa Timur, Indyah Aryani, mengingatkan bahwa penyerapan melalui program MBG saja belum cukup untuk mengatasi surplus produksi telur yang terjadi di Jawa Timur.

 

Menurutnya, volume produksi telur masih jauh lebih besar dibandingkan kebutuhan yang dapat diserap program tersebut. Karena itu, pencarian pasar baru di luar daerah harus terus dilakukan agar kelebihan produksi dapat tersalurkan.

 

“Produksi telur kita masih surplus. Karena itu, selain meningkatkan penyerapan melalui MBG, pasar-pasar di luar daerah juga harus terus dicari agar kelebihan produksi dapat tersalurkan,” ujarnya.