BPBD Jatim Perkuat Kesiapsiagaan Sekolah, 89 Persen Berada di Wilayah Rawan Bencana

pemerintahan | 07 Juli 2026 16:22

BPBD Jatim Perkuat Kesiapsiagaan Sekolah, 89 Persen Berada di Wilayah Rawan Bencana
Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur, Gatot Soebroto, membuka Training of Facilitator Satuan Pendidikan Aman Bencana (TOF SPAB) yang diikuti 50 guru perwakilan dari 38 kabupaten/kota di Surabaya. (dok suarasurabaya)

SURABAYA, PustakaJC.co – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur terus memperkuat kesiapsiagaan bencana di lingkungan pendidikan. Langkah tersebut dilakukan menyusul tingginya jumlah sekolah yang berada di kawasan rawan bencana, mencapai sekitar 89 persen dari total sekolah menengah di provinsi ini.

 

Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur, Gatot Soebroto, mengatakan sebanyak 3.645 dari total 4.088 SMA, SMK, dan MA di Jawa Timur berada dalam kategori wilayah dengan tingkat kerawanan bencana tinggi. Namun, hingga saat ini baru sekitar 95 sekolah atau sekitar dua persen yang telah mengikuti pelatihan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). Dilansir dari suarasurabaya.net, Selasa, (7/7/2026).

 

“Kondisi ini menjadi perhatian serius karena masih banyak sekolah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap bencana, tetapi belum memiliki bekal pengetahuan dan keterampilan dalam mitigasi maupun penanganan keadaan darurat,” ujar Gatot saat membuka Training of Facilitator Satuan Pendidikan Aman Bencana (TOF SPAB) di Surabaya, Selasa, (7/7/2026).

 

 

 

 

Sebagai upaya mempercepat terbentuknya sekolah tangguh bencana, BPBD Jawa Timur menggelar pelatihan TOF SPAB pada 6–7 Juli 2026 yang diikuti 50 guru perwakilan dari 38 kabupaten/kota. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi BPBD Jawa Timur bersama Ikatan Guru Indonesia (IGI) Jawa Timur, Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Timur, serta Dinas Pendidikan Jawa Timur.

 

Melalui pelatihan tersebut, para guru dipersiapkan menjadi fasilitator di sekolah masing-masing agar mampu menularkan pengetahuan dan keterampilan mitigasi bencana kepada siswa, tenaga pendidik, maupun warga sekolah lainnya.

 

Ketua IGI Jawa Timur, Sukari, menilai guru memiliki peran penting dalam membangun budaya sadar bencana di lingkungan pendidikan. Menurutnya, peningkatan kapasitas guru menjadi langkah strategis untuk menciptakan sekolah yang lebih siap menghadapi berbagai potensi bencana.

 

Selama pelatihan, peserta mendapatkan berbagai materi, mulai dari kebijakan SPAB, Kajian Risiko Bencana Partisipatif (KRBP), pembentukan Tim Siaga Sekolah, Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD), hingga simulasi penanganan bencana.

 

 

 

Pada hari terakhir, peserta juga mengikuti kunjungan ke Taman Edukasi Bencana BPBD Jawa Timur sebagai bagian dari penyusunan rencana tindak lanjut penerapan SPAB di sekolah masing-masing.

 

Gatot berharap para peserta dapat menjadi agen perubahan yang mampu memperluas penerapan budaya siaga bencana di lingkungan pendidikan sehingga semakin banyak sekolah di Jawa Timur yang memiliki sistem mitigasi dan penanganan darurat yang baik.

 

“Dengan bekal materi kebencanaan yang diberikan, saya yakin ini akan turut mewujudkan percepatan ketangguhan sekolah yang tujuan akhirnya akan menciptakan kondisi satuan pendidikan yang aman dan nyaman,” pungkasnya. (ivan)