Pemkot Surabaya Kebut Pengurangan 575 Titik Genangan Tersisa

pemerintahan | 11 Juli 2026 13:47

Pemkot Surabaya Kebut Pengurangan 575 Titik Genangan Tersisa
jalanan Surabaya dan pemukiman warga dilanda genangan setelah hujan deras. (dok jawapos)

SURABAYA, PustakaJC.co – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus memperkuat upaya pengendalian banjir dan genangan yang masih terjadi di sejumlah wilayah. Dari hasil pemetaan yang dilakukan sejak 2020, masih terdapat 575 titik genangan yang menjadi fokus penanganan secara bertahap.

 

Kepala Bidang Drainase Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Surabaya, Adi Gunita, menjelaskan bahwa dari total 1.015 titik genangan yang teridentifikasi pada 2020, sebanyak 440 titik telah berhasil ditangani hingga 2025. Dilansir dari jawapos.com, Sabtu, (11/7/2026).

 

“Sejak 2020 kami melakukan mitigasi dan pemetaan. Dari sekitar 1.015 titik genangan yang ditemukan, hingga 2025 sudah terselesaikan sekitar 440 titik. Saat ini masih tersisa 575 titik yang menjadi prioritas penanganan berikutnya,” ujar Adi, Jumat, (10/7/2026).

 

 

 

Pada tahun 2026, Pemkot Surabaya menargetkan penanganan di 120 titik genangan. Upaya tersebut dilakukan melalui pembangunan saluran baru sekaligus normalisasi saluran drainase yang sudah ada agar fungsi pengaliran air tetap optimal.

 

Menurut Adi, normalisasi saluran menjadi bagian penting dalam strategi pengendalian banjir. Infrastruktur drainase yang dibangun tidak akan bekerja maksimal apabila tidak dibarengi dengan perawatan dan pembersihan secara rutin.

 

Saat ini, Pemkot Surabaya mengelola sekitar 340 saluran drainase. Sementara itu, sekitar 30 saluran primer lainnya berada di bawah kewenangan pemerintah pusat melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) maupun Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

 

Karena itu, penanganan banjir dan genangan di Surabaya membutuhkan sinergi antara pemerintah kota, pemerintah provinsi, pemerintah pusat, serta berbagai instansi terkait. Menurutnya, pembangunan saluran di kawasan permukiman tidak akan efektif jika saluran primer di bagian hilir sebagai muara aliran air tidak mendapatkan perhatian yang sama.

 

“Penanganan banjir tidak bisa dilakukan sendiri. Dibutuhkan hubungan kolaboratif antara Pemerintah Kota Surabaya dengan instansi vertikal agar hasilnya lebih maksimal,” tegasnya.

 

 

Selain pembangunan infrastruktur, Adi juga mengajak masyarakat untuk ikut menjaga kebersihan lingkungan, khususnya saluran drainase. Ia mengingatkan agar warga tidak membuang sampah ke saluran air karena dapat menghambat aliran dan memperberat kinerja rumah pompa saat musim hujan.

 

Pemkot Surabaya berharap kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dapat mempercepat pengurangan titik genangan sehingga risiko banjir di berbagai kawasan kota dapat diminimalkan. (ivan)