DPRD Jatim Dorong Panggung Reguler untuk Jaga Eksistensi Seni Tradisi

pemerintahan | 21 Agustus 2026 18:51

DPRD Jatim Dorong Panggung Reguler untuk Jaga Eksistensi Seni Tradisi
Anggota DPRD Jawa Timur Jairi Irawan. (dok kominfo)

SURABAYA, PustakaJC.co – Anggota DPRD Jawa Timur Jairi Irawan mendorong pemerintah daerah menyediakan ruang pertunjukan secara rutin bagi pelaku seni tradisi. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga kelestarian budaya sekaligus membuka peluang ekonomi bagi para seniman.

 

Jairi mengatakan, keberadaan panggung yang berkelanjutan menjadi salah satu kebutuhan penting bagi komunitas seni tradisional. Tanpa ruang tampil, aktivitas seniman cenderung hanya berfokus pada latihan sehingga keberlangsungan komunitas dan regenerasi pelaku seni berpotensi melemah. Dilansir dari kominfojatim.go.id, Jumat, (21/8/2026).

 

“Yang dibutuhkan saat ini adalah wadah penampilan yang berkelanjutan agar seni tradisi tetap hidup dan mampu menghidupi komunitas seninya,” kata Jairi, Jumat, (21/8/2026).

 

 

Menurutnya, hasil reses di daerah pemilihan Blitar dan Tulungagung menunjukkan masih banyak kesenian tradisional yang memiliki pelaku maupun penggemar. Namun, sejumlah kesenian tersebut masih minim kesempatan untuk tampil di ruang publik.

 

Beberapa di antaranya adalah Wayang Jemblung, Wayang Lesung, dan Langen Beksan. Jairi menilai kesenian tersebut perlu mendapat ruang yang lebih luas agar tidak kalah eksis dibandingkan kesenian tradisional lain seperti wayang purwa, jaranan, dan ketoprak.

 

Ia menegaskan, pertunjukan secara rutin dapat menjadi salah satu faktor penting dalam mempertahankan keberadaan komunitas seni tradisi. Selain menjaga eksistensi budaya, kegiatan tersebut juga dapat menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal dan meneruskan kesenian daerah.

 

Jairi juga mengusulkan adanya kemudahan perizinan bagi kelompok seni tradisional yang menggelar pertunjukan dalam skala kecil. Menurutnya, penyederhanaan proses perizinan dapat mendorong komunitas budaya lebih aktif menampilkan karya di berbagai ruang publik.

 

Selain panggung reguler dan kemudahan perizinan, ia menilai diperlukan peran kurator seni serta pengelola komunitas. Mereka dapat membantu menyusun konsep pertunjukan agar lebih menarik dan mudah diterima oleh masyarakat, khususnya generasi muda.

 

“Kurator dapat membantu mengemas pertunjukan agar lebih ringkas dan sesuai dengan minat generasi muda tanpa menghilangkan nilai tradisinya,” ujarnya.

 

 

Jairi mengapresiasi perhatian Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata yang selama ini telah memberikan dukungan kepada komunitas budaya, termasuk melalui program penghargaan bagi seniman dan budayawan.

 

Meski demikian, ia berharap dukungan tersebut dapat diperluas hingga kelompok seni tradisional yang tumbuh di tingkat kecamatan, desa, hingga dusun.

 

Menurutnya, agenda pertunjukan budaya yang diselenggarakan secara berkala dapat membuka akses lebih luas bagi para seniman untuk tampil. Ruang pertunjukan juga dapat dikembangkan di berbagai lokasi, seperti hotel, destinasi wisata, maupun agenda kebudayaan daerah.

 

Dengan adanya panggung yang berkelanjutan, seni tradisi diharapkan tidak hanya terjaga sebagai warisan budaya, tetapi juga mampu menciptakan regenerasi seniman serta memberikan nilai ekonomi bagi komunitas seni di Jawa Timur. (ivan)