Secara nasional, hingga Juli 2026, BPJS Ketenagakerjaan telah melindungi sekitar 48 juta peserta aktif. Pada periode yang sama, manfaat yang dibayarkan mencapai Rp42 triliun dari 3,6 juta klaim.
Selain itu, manfaat beasiswa pendidikan telah diberikan kepada sekitar 90.000 anak. Namun, Saiful menyebut masih terdapat tantangan besar, khususnya dalam memperluas perlindungan bagi pekerja informal.
Saat ini, baru sekitar 13,5 juta pekerja informal yang menjadi peserta dari potensi 77,8 juta pekerja.
Menurutnya, pekerja informal seperti pengemudi, pedagang, petani, nelayan hingga pekerja mandiri perlu memahami bahwa jaminan sosial bukan sekadar kewajiban, melainkan kebutuhan untuk melindungi diri dan keluarga dari risiko sosial ekonomi.
“Angka tersebut menunjukkan masih besarnya ruang perlindungan yang harus kita jangkau. Tantangannya adalah bagaimana pekerja informal melihat jaminan sosial bukan sebagai beban, tetapi sebagai kebutuhan untuk menjaga dirinya dan keluarganya ketika risiko terjadi,” jelasnya.
Sejalan dengan perluasan perlindungan tersebut, BPJS Ketenagakerjaan juga terus mengembangkan pendekatan Value Beyond Protection, yakni memastikan manfaat perlindungan dapat memberikan dampak berkelanjutan bagi pekerja dan keluarganya.
Salah satu implementasinya melalui Program Pemberdayaan Ekonomi dan Kemandirian (PEKA) yang diluncurkan secara serentak melalui soft launching pada 18 Agustus 2026 di 37 provinsi dan 45 titik.
Program PEKA ditujukan, khususnya, bagi peserta dan ahli waris penerima manfaat agar manfaat yang diterima tidak berhenti sebagai santunan, tetapi dapat menjadi bekal untuk kembali produktif dan mandiri.
Utoh berharap sinergi dengan media dapat terus diperkuat sehingga informasi mengenai jaminan sosial ketenagakerjaan semakin mudah diakses masyarakat. Hal tersebut diharapkan mampu mendorong lebih banyak pekerja untuk menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan.
“Kami ingin rekan-rekan media terus menjadi mitra kritis sekaligus mitra strategis. Mari berjalan bersama, bukan sekadar menghasilkan pemberitaan, tetapi membangun kesadaran yang pada akhirnya mendorong semakin banyak pekerja untuk melindungi dirinya dan keluarganya,” pungkasnya. (ivan)