Khofifah menekankan pentingnya hilirisasi riset agar inovasi yang dihasilkan di laboratorium tidak berhenti di atas kertas, melainkan langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas dalam bentuk layanan medis modern.
Selain untuk meningkatkan mutu pelayanan, penguatan riset kesehatan di dalam negeri juga dinilai strategis dari sisi ekonomi. Khofifah menyebut, ketergantungan masyarakat pada fasilitas medis luar negeri telah memicu kebocoran devisa dalam jumlah besar.
“Tidak terhitung berapa devisa yang harus keluar negeri, bisa mencapai ratusan triliun rupiah karena masyarakat mempercayakan layanan kesehatannya ke luar negeri. Karena itu, penguatan riset dalam negeri menjadi hal yang sangat vital,” tegasnya.
Melihat potensi Jawa Timur yang disokong oleh deretan perguruan tinggi ternama, rumah sakit rujukan, pusat penelitian, hingga industri farmasi, Khofifah optimistis Jatim mampu membangun kemitraan strategis berbasis teknologi tinggi. Model pengintegrasian riset dan layanan medis seperti di SCCR Semarang diharapkan dapat diadaptasi untuk memperkuat ekosistem kesehatan di Jawa Timur. (ivan)