Khofifah Bidik Kemandirian Kesehatan Jatim Lewat Penguatan Riset dan Hilirisasi Medis

pemerintahan | 14 September 2026 18:43

Khofifah Bidik Kemandirian Kesehatan Jatim Lewat Penguatan Riset dan Hilirisasi Medis
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa saat melakukan kunjungan ke PT Stem Cell and Cancer Research Indonesia (SCCR Indonesia) di Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang. (dok antara)

SURABAYA, PustakaJC.co – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa terus berupaya memperkuat ekosistem riset dan inovasi teknologi kesehatan di wilayahnya. Langkah ini diambil guna meningkatkan kualitas layanan medis domestik sekaligus menekan angka warga negara Indonesia yang berobat ke luar negeri.

 

Komitmen tersebut disampaikan Khofifah usai meninjau laboratorium PT Stem Cell and Cancer Research Indonesia (SCCR Indonesia) di Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, Jawa Tengah. Dilansir dari antaranews.com, Senin, (14/9/2026).

 

Dalam kunjungan tersebut, Khofifah mengapresiasi kemajuan riset kedokteran dalam negeri yang dinilainya sudah didukung oleh fasilitas dan laboratorium laboratorium berteknologi canggih. Menurutnya, perkembangan ini membuktikan bahwa kualitas SDM kesehatan di Indonesia mampu bersaing.

 

“Kami diperkenalkan dengan berbagai alat kesehatan dan laboratorium yang super canggih. Ini pembelajaran luar biasa mengenai pengembangan riset, teknologi, kepakaran, dan pelayanan kesehatan dalam satu ekosistem,” ujar Khofifah dalam keterangan resminya di Surabaya, Senin (14/9).

 

 

Khofifah menekankan pentingnya hilirisasi riset agar inovasi yang dihasilkan di laboratorium tidak berhenti di atas kertas, melainkan langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas dalam bentuk layanan medis modern.

 

Selain untuk meningkatkan mutu pelayanan, penguatan riset kesehatan di dalam negeri juga dinilai strategis dari sisi ekonomi. Khofifah menyebut, ketergantungan masyarakat pada fasilitas medis luar negeri telah memicu kebocoran devisa dalam jumlah besar.

 

“Tidak terhitung berapa devisa yang harus keluar negeri, bisa mencapai ratusan triliun rupiah karena masyarakat mempercayakan layanan kesehatannya ke luar negeri. Karena itu, penguatan riset dalam negeri menjadi hal yang sangat vital,” tegasnya.

 

Melihat potensi Jawa Timur yang disokong oleh deretan perguruan tinggi ternama, rumah sakit rujukan, pusat penelitian, hingga industri farmasi, Khofifah optimistis Jatim mampu membangun kemitraan strategis berbasis teknologi tinggi. Model pengintegrasian riset dan layanan medis seperti di SCCR Semarang diharapkan dapat diadaptasi untuk memperkuat ekosistem kesehatan di Jawa Timur. (ivan)