Selain pipanisasi, Pemprov Jatim juga menyasar potensi air bawah tanah di titik-titik rawan krisis air bersih. Titik-titik tersebut nantinya akan dimanfaatkan secara optimal melalui pembuatan sumur bor agar masyarakat memiliki akses air bersih secara berkelanjutan.
Menurut Gatot, pemetaan dan penyiapan infrastruktur ini penting untuk meminimalkan dampak krisis air yang kerap menimpa warga, khususnya saat terjadi kemarau panjang seperti tahun ini.
Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), cuaca panas dan kondisi kemarau di wilayah Jawa Timur masih berlangsung sepanjang Oktober 2026. Hujan diperkirakan baru mulai turun secara bertahap pada November dan merata di seluruh daerah di Jatim pada Desember 2026.
Dengan adanya dorongan pengerjaan pipanisasi dan sumur bor ini, diharapkan ketergantungan daerah rawan kekeringan pada pasokan tangki air bersih darurat dapat berkurang secara signifikan di masa mendatang. (ivan)