SURABAYA, PustakaJC.co – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Timur terus mendorong produk industri serta Industri Kecil Menengah (IKM) lokal untuk menembus pasar internasional. Selain sektor makanan dan minuman (mamin), komoditas sarang burung walet menjadi salah satu andalan yang kini gencar dibidik untuk pasar ekspor.
Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan Luar Negeri (PPLN) Disperindag Jatim, Erivina Lucky Kristian, menyatakan bahwa investasi yang masuk ke Jawa Timur harus diimbangi dengan perluasan akses pasar. Hal tersebut penting agar produk hasil olahan pabrik maupun IKM memiliki nilai tambah bagi perekonomian daerah. Dilansir dari suarasurabaya.net, Rabu, (7/10/2026).
"Teman-teman dari investasi berupaya memasukkan investasi dan membangun pabrik di Jawa Timur, sedangkan kami di Disperindag mencoba memasarkan produk-produk yang sudah dihasilkan tersebut ke pasar yang lebih luas," ujar Lucky.
Manfaatkan Negara Hub
Salah satu komoditas potensial, sarang burung walet, saat ini banyak diproduksi di wilayah Pasuruan, Bojonegoro, hingga Tuban. Komoditas ini juga menarik minat investor dari China dan Hong Kong. Namun, mengingat tidak semua produsen lokal memiliki akses langsung ke pasar China, Disperindag Jatim menerapkan strategi penembusan pasar melalui negara hub.
- Negara Perantara: Memanfaatkan Vietnam, Hong Kong, dan Taiwan sebagai pintu masuk utama menuju pasar China.
- Kerja Sama Perwakilan: Mengandalkan perwakilan perdagangan luar negeri yang ada di Surabaya untuk membuka jalur distribusi.
- Peningkatan Kualitas: Mendorong pembinaan dari sektor terkait, seperti dinas peternakan, agar standar kualitas produk sesuai dengan regulasi pasar global.
Diversifikasi Pasar Ekspor
Selain sarang burung walet, industri mamin serta pengolahan tembaga terintegrasi di Gresik turut menyumbang porsi besar dalam kinerja ekspor Jawa Timur.
Guna meminimalisasi ketergantungan pada satu negara tujuan, Disperindag Jatim aktif menjalankan program misi dagang. Hingga kini, kegiatan ekspansi pasar tersebut telah menyasar sekitar sembilan negara, dengan agenda terbaru digelar di Arab Saudi untuk mendorong komoditas makanan dan minuman lokal. (ivan)