Sementara itu, Pengurus Bidang Pengendalian Mutu CTI, Sjamsidar Isa, menyatakan komitmennya untuk memperjuangkan pengakuan kolektif terhadap kekayaan identitas kebudayaan Indonesia. Berbeda dari pendekatan parsial, CTI mendorong pengajuan tenun secara utuh.
"Tenun Indonesia memiliki keragaman teknik yang sangat kaya. Karena itu, kami ingin mengusulkan tenun secara keseluruhan ke UNESCO, bukan hanya satu teknik tertentu," ujar Sjamsidar.
Terkait langkah diplomasi kebudayaan di tingkat internasional, Fadli Zon mengingatkan pentingnya menelaah regulasi UNESCO secara cermat. Pemerintah saat ini tengah mengkaji dua opsi mekanisme pendaftaran, yakni nominasi bersama (joint nomination) atau perluasan pengakuan (extension).
Pasca-audiensi tersebut, Kementerian Kebudayaan dan CTI berkomitmen melanjutkan koordinasi intensif untuk mematangkan berkas pengusulan sekaligus mendorong peningkatan kompetensi profesi perajin wastra secara berkelanjutan. (ivan)