Saat ini, kapasitas data center yang beroperasi di Indonesia berkisar antara 600–700 megawatt. Sementara itu, proyek data center yang sedang dalam tahap perencanaan dan pengembangan mencapai 1,3 gigawatt dengan potensi nilai investasi sekitar 15–20 miliar dolar AS.
Peluang investasi dari raksasa teknologi dunia pun terus dijajaki. NVIDIA saat ini tengah dalam pembicaraan rencana investasi senilai 4,5 miliar dolar AS (sekitar Rp80,1 triliun) di Kawasan Perdagangan Bebas Batam. Di samping itu, kerja sama internasional melalui World AI Collaboration Organization (WAICO) diproyeksikan mampu menjaring investasi sebesar 8–12 miliar dolar AS sepanjang periode 2026–2030.
Di tingkat regional, Indonesia telah menyelesaikan perundingan ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA) yang ditargetkan ditandatangani pada KTT ASEAN di Filipina, November 2026. Berdasarkan kajian Boston Consulting Group, implementasi DEFA berpotensi melipatgandakan nilai ekonomi digital kawasan ASEAN dari 1 triliun dolar AS menjadi 2 triliun dolar AS pada 2030.
Di tengah pesatnya arus transaksi digital, Airlangga menekankan pentingnya penguatan sistem keamanan siber. Mengantisipasi risiko pencurian data terenkripsi yang berpotensi dibobol teknologi komputer kuantum di masa depan, pemerintah menyiapkan teknologi Post-Quantum Cryptography(PQC).
Langkah pengamanan ini didukung oleh penerapan PQC dan pembentukan gugus tugas nasional oleh Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN).
Menutup keterangannya, Airlangga menegaskan bahwa keberhasilan transformasi ekonomi digital memerlukan kolaborasi erat antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan seluruh pemangku kepentingan agar dampak pertumbuhannya dapat dirasakan secara inklusif oleh masyarakat luas. (ivan)
#ekonomidigital, #pertumbuhanekonomi, #investasidigital, #airlanggahartarto, #kemenkoekonomi, #indonesiamaju, #datacenter, #aiindonesia, #qris, #ecommerce, #harbolnas, #defa, #keamanansiber, #bssn, #beritaekonomi