Menurutnya, wayang kulit tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga mengandung pesan moral, filosofi kehidupan, dan kearifan lokal yang masih relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini.
“Wayang kulit bukan sekadar tontonan, tetapi juga tuntunan. Di dalamnya ada nilai moral, filosofi kehidupan, dan kearifan lokal yang tetap relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini,” ujarnya.
Musyafak berharap pagelaran tersebut dapat menjadi ruang kebersamaan antara DPRD Jatim dan masyarakat. Selain menikmati pertunjukan seni tradisional, masyarakat diharapkan semakin mengenal dan mencintai kekayaan budaya daerah.
Ia menilai pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk lembaga pemerintahan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan ialah menghadirkan pertunjukan seni tradisional di ruang publik sehingga masyarakat memiliki kesempatan lebih luas untuk menikmati warisan budaya bangsa.
“Melalui kegiatan seperti ini, kami ingin budaya tradisional tetap dekat dengan masyarakat. Jangan sampai generasi muda hanya mengenal wayang sebagai cerita masa lalu, padahal banyak nilai kehidupan yang bisa dipelajari dari seni pewayangan,” tuturnya.