Patroli Air Jatim Libatkan Industri, Temukan Bangunan Baru di Sempadan Sungai Surabaya

pemerintahan | 28 Oktober 2026 08:00

Patroli Air Jatim Libatkan Industri, Temukan Bangunan Baru di Sempadan Sungai Surabaya
suasana Tim Patroli Air Jawa Timur melibatkan perwakilan industri untuk melihat langsung kondisi Sungai Surabaya. (dok kominfo)

SURABAYA, PustakaJC.co – Tim Patroli Air Jawa Timur melibatkan perwakilan industri dalam menyusuri Sungai Surabaya untuk memantau kualitas air sekaligus mengidentifikasi persoalan lingkungan di sepanjang aliran sungai. Dalam patroli yang berlangsung pada Selasa, (27/10/2026), tim menemukan sejumlah bangunan baru di sempadan sungai serta eceng gondok yang menghambat penyisiran.

 

Patroli dilakukan mulai wilayah Mojokerto, Gresik, hingga kawasan Gunung Sari, Surabaya. Kegiatan tersebut melibatkan sekitar 35 personel lintas sektor dengan dukungan tiga armada perahu dan dua unit mobil operasional. Dilansir dari lominfojatim.go.id, Rabu, (28/10/2026).

 

Sejumlah instansi yang terlibat antara lain Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Timur, DLH Kabupaten Mojokerto, DLH Kabupaten Gresik, DLH Kota Surabaya, Perum Jasa Tirta (PJT) I, Disperindag, Satpol PP, Dinas Perhubungan Jatim, Dinas Pekerjaan Umum, Garda Lingkungan, Konsorsium Lingkungan Hidup, serta perwakilan masyarakat dan industri, termasuk PT Kasmaji Inti Utama dari Mojokerto.

 

Koordinator Tim Patroli Air Jatim sekaligus Direktur Konsorsium Lingkungan Hidup Jatim, Imam Rochani, mengatakan patroli tidak hanya berfokus pada pengawasan potensi pembuangan limbah industri, tetapi juga pemeriksaan kualitas air dan identifikasi berbagai persoalan di sepanjang sungai.

 

Dalam kegiatan tersebut, tim mengambil sampel air untuk pemeriksaan awal. Meski tercium aroma kurang sedap di sejumlah titik, pengukuran awal menunjukkan derajat keasaman (pH) air masih relatif normal.

 

“ Kondisi pH air relatif normal, tidak ditemukan indikasi pembuangan limbah secara mencolok saat hujan. Namun terkait sampel air yang berbau sedikit, kita masih menunggu hasil uji laboratorium untuk memastikan penyebabnya,” ujar Imam di sela-sela kegiatan.

 

 

Hasil uji laboratorium diharapkan dapat memastikan penyebab bau pada sampel air sekaligus menjadi dasar penentuan langkah penanganan oleh instansi terkait. Dengan demikian, tindak lanjut terhadap dugaan persoalan kualitas air dapat dilakukan berdasarkan hasil pemeriksaan.

 

Keterlibatan industri dalam patroli tersebut menjadi bagian dari upaya membangun tanggung jawab bersama dalam menjaga kualitas Sungai Surabaya. Perwakilan PT Kasmaji Inti Utama mengakui masih terdapat persoalan lingkungan yang membutuhkan penanganan berkelanjutan, terutama sampah dan pertumbuhan eceng gondok.

 

Menurutnya, upaya menjaga kebersihan sungai perlu melibatkan berbagai pihak, termasuk perusahaan yang memanfaatkan air Kali Surabaya sebagai bahan baku kegiatan usaha.

 

Dalam kegiatan itu, sejumlah perwakilan industri menyatakan komitmen untuk memperbaiki pengelolaan limbah cair agar memenuhi baku mutu sebelum dibuang melalui saluran pembuangan. Pelaku industri juga berencana berpartisipasi dalam pemulihan lingkungan melalui penanaman pohon di sepanjang sempadan sungai.

 

 

 

Selain memeriksa kualitas air, tim patroli menemukan sejumlah bangunan baru di sempadan sungai yang disebut muncul dalam kurun waktu sekitar satu bulan terakhir. Bangunan tersebut meliputi kandang ayam, kolam budidaya lele, tempat kos, hingga perluasan bangunan industri di tepi aliran sungai.

 

Tim juga menemukan tumpukan tong pengapung yang diduga dipersiapkan untuk pembangunan jembatan terapung baru. Berbagai temuan tersebut akan menjadi bahan evaluasi dan pengawasan lanjutan.

 

Persoalan lain yang menghambat patroli adalah pertumbuhan eceng gondok yang sangat padat. Kondisi tersebut menyulitkan pergerakan perahu sehingga tim tidak dapat melanjutkan penyisiran hingga kawasan Gunung Sari. Perahu akhirnya harus diangkut di titik perbatasan Karangpilang dengan Surabaya.

 

Imam mengatakan, seluruh temuan lapangan akan dirangkum dalam laporan resmi dan rekomendasi tindak lanjut kepada Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas serta instansi pembina terkait, sesuai tugas dan kewenangan masing-masing.

 

“Temuan bangunan liar di sempadan sungai hingga pembersihan eceng gondok ini membutuhkan sinergi ‘siapa berbuat apa’ sesuai kewenangan. Jasa Tirta sendiri sudah mengoperasikan alat berat Kualanamu untuk pembersihan eceng gondok. Kami ingin keterbukaan ini membuat semua pihak paham bahwa tim di lapangan terus bekerja keras menjaga kelestarian Sungai Surabaya,” tegasnya.

 

Ia menambahkan, persoalan sungai tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja. Pengawasan pencemaran, penertiban bangunan yang tidak sesuai ketentuan, dan pengendalian eceng gondok membutuhkan koordinasi lintas instansi agar penanganan berjalan lebih efektif.

 

Sungai Berpotensi Jadi Sarana Edukasi Lingkungan

 

Sementara itu, Dosen Pendidikan Nonformal Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Dr. Mustaqim, menilai kegiatan susur sungai selama hampir lima jam dari Jetis hingga Surabaya menunjukkan potensi sungai untuk dikembangkan sebagai sarana edukasi lingkungan, eduwisata, dan pemberdayaan masyarakat lokal.

 

Menurutnya, sungai tidak hanya berfungsi sebagai ekosistem dan sumber air, tetapi juga dapat menjadi ruang pembelajaran bagi masyarakat mengenai pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.

 

Ia mendorong penguatan edukasi agar masyarakat dan pelaku usaha tidak membuang sampah maupun limbah sembarangan. Upaya tersebut, lanjutnya, perlu dilakukan melalui pendekatan pentahelix yang melibatkan akademisi, pemerintah, pelaku usaha, masyarakat, dan media massa.

 

 

 

Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperluas edukasi lingkungan sekaligus mendorong industri menerapkan pengelolaan lingkungan secara preventif, termasuk memenuhi ketentuan analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) sesuai kewajiban masing-masing.

 

Melalui patroli dan koordinasi lintas sektor, pengawasan kualitas air Sungai Surabaya diharapkan semakin efektif. Selain menjaga ekosistem sungai, upaya tersebut juga penting untuk mendukung keberlanjutan pasokan air bersih bagi masyarakat Jawa Timur. (ivan)